Medianya Generasi Muda | Dakwah Sekolah | Rohis

Forum Kerjasama Alumni Rohis Bandar Lampung

  • Featured Posts

    Minggu, 14 Maret 2010

    Episode Jalsah Perdana di RDS SATU

    Minggu yang cerah. Pagi yang bening, langit tersenyum. Di atas sana, hamparan jubah putih membentang. Awan putihnya berarak seolah berkejaran. Pagi ini, hiruk pikuk kota Bandar Lampung masih belum mencapai titik ekuilibriumnya. Kurvanya masih pada garis terendah. Dentang waktu terus berjalan hingga menunjukkan pukul delapan. Musholla yang terletak di SMKN 2 Bandar Lampung masih menanti langkah kaki para pelajar. Ya, ada event penting hari ini, jalsah ruhiyah pelajar. Di sudut sana, sosok wanita anggun, lembut, dan bersahaja tengah membenahi posisi tidur sang bayi. Awal januari lalu ia lahir. Adik manis yang dibalut dengan kerudung kecil terlelap tenang. Seolah mengerti bundanya akan menjadi pembicara hari ini. Sangat tenang, tampak padanya aura kedamaian.

    Tiga orang peserta dengan langkah malu-malu memasuki musholla. Kesunyian pecah, karena kedatangan peserta perdana. Dengan wajah gembira mereka menghampiri panitia dan melakukan registrasi peserta. Roda waktu terus berputar. Pukul 8.15 acara dimulai. MC yang hari itu berpakaian nuansa cokelat membuka acara. Di atas meja terdapat laptop advan putih lengkap dengan LCD dan sound system mungil, tak lupa dipercantik dengan vas bunga tulip berwarna kuning. Baru ada tiga peserta saat itu, tak berapa lama menyusul lagi satu.

    Akhirnya, tiba waktunya pemateri menjelaskan kajian pagi ini, Khusyu’ dalam sholat. Tak berapa lama waktu, bertambahlah peserta satu per satu. Kini berpuluh pasang mata tengah focus pada pembicara utama. Sosok anggun dan bersahaja dengan pakaian gamis berwarna merah bata. Mb’ Dewi Asitah Jamil, S.Pd menyampaikan materi dengan sangat tenang,lugas, dan padat. Sesekali beliau selingi bahasanya dengan Bahasa Inggris, sesuai dengan profesinya guru Bahasa Inggris. Sejenak, para peserta mentafakkurkan diri, mendengarkan titah pemateri. Merebahkan kegalauan dan keresahan yang menyelimuti. Mungkin, karena keringnya hati dari asupan rohani. Atau karena interaksi dengan Sang Pencipta tak membekas di jiwa. Karena khusyu’ dalam sholat belum menjadi amal nyata. Baru sebatas kata.

    “Amal yang pertama kali ditanya Allah adalah sholat. Sholat itulah pembeda antara muslim dan kafir. SHolat baru berarti jika kita khusyu’ melakukannya. Nah.. khusyu’ itu adalah pekerjaan hati. Artinya menghadirkan kalbu seakan-akan berada di hadapan Allah, SWT dengan perasaaan penuh ketundukan dan rendah diri. Artinya, benar-benar merasa, ya Allah aku ini sangat kecil dibandingkan kekuasaanmu. Orang yang beriman akan khusyu’ dalam sholatnya dan Allah akan mengampuni dosanya serta menempatkan pada sebaik-baik tempat. Surga Firdaus.Adadua hal yang mempengaruhi khusyu’ dalam sholat yaitu Keimanan yang disertai denganihsan dan lenyapnya rintangan yang menghalangi. Sholat bisa mencegah dari hal yang keji dan munkar hanya jika kita khusyu’ dalam sholat.”Beberapa kalimat di atas,adalah cuplikan dari materi hari ini.

    Mentari pagi beserta hangatnya mulai menyelimuti atmosfer bumi. Di luar sana, terdengar riak-riak halus dari dedaunan. Dahannya menari kesana kemari diiringi angin lembut yang setia menemani. Sesekali terdengar kicauan burung yang menambah asri suasana. Ya, di luar sana memang banyak terdapat pepohonan rindang.
    Peserta masih terlihat antusias menyimak ilmu hari ini. Seorang adik kecil, berpakaian nuansa Pink serius mencatat titah sang pemateri. Sesekali ia tersenyum mendengar petuah pembicara. Rasa ingin tahunya seolah memaksa mata untuk terus menyimak, apa gerangan penyebab khusyuk dalam sholat. Lebih lanjut, mb dewi menjelaskan salah satu penyebab khusyu’ dalam sholat adalah mengingat kematian. “Coba saat sholat kita hadirkan perasaan bahwa ini adalah sholat terakhir kita,misalnya ya Allah tadi itu aku habis bohong lo, kalau habis ini aku mati gimana ya?berarti ini sholat terakhirku dong..” ujar mb dewi mantap.

    Detik demi detik berlalu, menghantarkan pada penghujung waktu acara. Sebelum diakhiri, MC memberi tahu bahwa ada reward (hadiah) untuk tiga orang yang hadir tepat waktu. Komitmen terhadap waktu memang hal yang sangat penting. Tiba saatnya acara ditutup. Diakhirkan dengan do’a robithoh. Sambil menghadirkan kembali wajah-wajah saudara yang tidak hadir hari ini. Berharap, rahmat dan hidayahNya selalu tercurah untuk mereka. Juga memohon agar di jalsah selanjutnya mereka bisa datang. Menimba ilmu dan memperbaiki keimanan yang mungkin kering kerontang. Dan di jalsah inilah kita membasahi nurani dengan nasihat penyejuk hati.

    Ketika iman di hati belum menjadi amal shalih, iman itu masih di tingkat minimal. Saat iman itu menginspirasi lahirnya amal shalih, maka iman itu meningkat Dari minimal menuju maksimal.

    Ya.. materi ini harus bertransformasi menjadi amal shalih,amilin. Tak cukup hanya kata, perlu amal nyata. Karena kata hanya bahasa tak mengungkap sepenuh makna. Maka harus ada amal sebagai kata kerja. Kerja sebagai bukti cinta padaNya. Karena cinta adalah kata kerja.

    FORKAPMI