Medianya Generasi Muda | Dakwah Sekolah | Rohis

Forum Kerjasama Alumni Rohis Bandar Lampung

  • Breaking News

    Rabu, 03 Maret 2010

    Kota Tanjung Karang di Pagi Hari

    Menyusuri Kota Tanjung Karang, turun dari sebuah mobil berwarna kuning yang dikendarai oleh seorang bapak yang ramah. “Terima kasih,” ujarku saat turun dan setelah membayar ongkos angkot tersebut. Cukup murah jika diukur dengan kantong mahasiswa. Pagi itu, udara masih agak dingin, suasana Kota Tanjung Karang Timur masih sepi. Belum terlihat polisi lalu lintas yang biasa berjaga dan mengatur kendaraan yang lalu lalang.

    Selintas lalu, orang-orang yang sibuk berbelanja, pulang dari gereja, dan orang-orang yang memiliki beragam aktivitas mulai memadati kota ini. Ada yang membawa buku beserta tas besar entah berisi apa, ada pula para pegawai Ramayana Department Store yang telah siap dengan seragam dan perlengkapan make up-nya. Para kondektur Damri dari berbagai arah —Korpri, Rajabasa, Teluk Betung— yang tengah asyik berkicau memanggil-manggil calon penumpang, dengan seragam biru muda yang lumayan rapi, bersih, dan cukup bagus, begitu percaya diri memberikan seulas senyum, bahkan serangkaian canda tawa untuk penumpang.


    Di sisi lain, suara-suara orang-orang yang mengobrol, memanggil teman, atau suara klakson mobil dan sepeda motor mulai ramai. Ya… maklumlah, ternyata waktu telah menunjukkan pukul 08.00. Udara mulai menunjukkan kehangatannya. Mungkin bagi yang baru selesai berjalan akan segera merasakan derasnya keringat yang mengalir. Bau semerbak pagi mulai berkurang, hanya ada bau asap knalpot dan hembusan polusi yang biasa menemani Kota Tanjung Karang. Terlihat Damri yang awalnya sepi, mulai sesak berjejalan oleh penumpang. Toko-toko mulai dibuka. Senyum ramah sang penjual dan penjaja produk mulai terlihat.

    Tepat pukul 08.20, bus Damri putih bertuliskan T. Karang-T. Betung berangkat, menyusuri jalan melewati “Gramedia”. Toko itu belum ramai oleh pengunjung. “Al Furqon! Al Furqon!” teriak kondektur Damri dengan lantang. Dua orang berjilbab berbeda warna turun dan segera menyeberangi jalan. Terlihat senyum mengembang, tanda kelegaan telah melalui Kota Tanjung Karang yang padat. Begitulah kebiasaan Kota Tanjung Karang menyapa setiap pengunjungnya. Dari pagi yang cerah, indah, agak sepi, dingin, dan sedikit ramah, perlahan berubah menjadi kehangatan dan keramaian yang sudah biasa terbayang di benak pecinta kota ini. (Sekar, TKS SMAN 12)

    Portal Berita FKAR

    FORKAPMI

    Dokter FKAR