Medianya Generasi Muda | Dakwah Sekolah | Rohis

Forum Kerjasama Alumni Rohis Bandar Lampung

  • Breaking News

    Kamis, 25 Maret 2010

    Ukhuwah dalam Rangkaian Bunga

    Suasana ramai selalu memenuhi masjid kebanggaan mahasiswa Universitas Lampung –Al-Wasi’i. Masjid yang dijuluki sebagai markas aktivis dakwah seluruh kalangan ini selalu penuh dengan jamaah yang akan menunaikan sholat, atau yang hanya duduk-duduk menikmati sejuknya semilir angin dari pintu masuk akhwat dan lubang-lubang kecil yang rapi terjajar seperti saringan air jika dilihat dengat perbesaran 1000x menggunakan mikroskop. Terlihat mahasiswi berjilbab warna-warni dari berbagai jurusan tampak berkumpul membentuk beberapa lingkaran kecil yang masing-masing sibuk dengan pembicaraan seputar kegiatan kampus atau sekedar membicarakan keluh kesah pribadi hari ini.

    Di baris ketiga dari pintu akhwat tepat di depan pilar ke empat paling belakang sudah berkumpul tujuh orang akhwat aktivis dakwah sekolah yang tergabung dalam Ikatan Alumni Muslim Smanda atau yang dikenal dengan Ikamuda, sedang ramai membicarakan rencana kegiatan hari ini. Salah satu dari mereka tampak bingung mencari-cari pinjaman atasan mukena karena kehabisan stok di keranjang penyimpanan. Raut wajahnya yang semakin gelisah terlihat jelas karena tak jua mendapatkan atasan mukena dan khawatir tidak mendapat kesempatan untuk berjamaah dengan akhwat yang lain. Sedangkan yang lain tampak sedang duduk-duduk, bercengkerama, sambil menunggu kedatangan seseorang yang cukup penting, sang trainer kegiatan akhwat hari itu.

    Ikatan alumni sekolah itu ternyata cukup kuat. Terbukti dari hadirnya seorang akhwat senior di barisan struktur Ikamuda tahun lalu, ikut meramaikan rencana pertemuan hari ini. Tampak pula empat orang akhwat muda dari angkatan yang sama nampak asyik dengan obrolannya. Pakaian mereka senada dominansi coklat menggambarkan begitu kompaknya mereka. Obrolan khas satu angkatan. Yah, kadang sulit dimengerti oleh angkatan yang lain. Tiba-tiba hadir dua sosok akhwat yang keduanya memakai jilbab berwarna hitam. Mereka berkeliling menyalami semua akhwat yang ada di kelompok itu. Rasanya saling bersalaman, menyunggingkan senyum sudah menjadi kebiasaan para akhwat jika bertemu dengan sesamanya. Semoga di lain waktu bukan hanya dengan kalangan yang ada di kelompoknya, tapi pun orang lain yang ingin juga bisa menikmati keindahan ukhuwah ini.

    Hari ini memang merupakan hari spesial bagi akhwat Ikamuda, yang dulu sering dipanggil begitu. Sekarang pun tak pernah bosan dipanggil dengan nama itu. Pembagian dakwah di ranah TKS yang berbeda tidak membuat ukhuwah ini semakin jauh, justru semakin dekat dengan dipersiapkannya acara khusus untuk akhwat Ikamuda dalam mengeratkan ukhuwah mereka. Begitupun hari ini. Hari Rabu yang spesial di bulan Februari. Akhwat-akhwat dari TKS SMAN 2, TKS SMPN 2, dan TKS SMPN 25 sengaja mengosongkan waktu untuk berkumpul bersama, bukan sekedar bertatap muka, tapi karena hari ini adalah hari spesial untuk akhwat yang kreatif bersama ruang akhwat kreatif.

    Mereka tampak akan memulai acara, tapi rupanya area tempat mereka duduk agak sedikit ramai. Setelah berembug, mereka sepakat untuk berpindah tempat ke salah satu sudut yang lebih sepi. Tanpa menunggu hitungan kelima beberapa di antara akhwat-akhwat itu bergegas pindah ke posisi paling ujung sebelah utara di bagian akhwat masjid Al-Wasi’i. Posisi ini lebih nyaman, karena tidak terlalu ramai, sehingga cocok untuk kegiatan yang beranggotakan banyak orang.

    Setelah semua berkumpul acara yang ditunggu-tunggu pun dimulai. Tepat pukul 13.37, MC pun membuka acara. Tak bosan-bosannya kesyukuran pada Allah disampaikan karena memang hanya dengan rahmat-Nya lah acara ini dapat terwujud. “Bismillahirrohmanirrohiim...,” acara pun dibuka dengan lafadz basmallah yang diikuti oleh seluruh akhwat yang hadir. Kemudian acara dilanjutkan dengan taujih rabbani. Surat Ali Imron dimulai dari ayat ke 30 terpilih untuk dibaca, oleh salah satu presidium akhwat TKS SMAN 2. Ia pun mulai membacakan. Sontak para pesertapun diam terhanyut dalam lantunan ayat suci Al Qur’an. Setelah dibacakan enam ayat surat Ali Imron acara dilanjutkan dengan mentadabburi isi ayat yang telah dibacakan. Sentuhan lembut yang menggetarkan tidak hanya sampai dibacakannya terjemahan surat Ali Imron tersebut. Kali ini taujih yang juga disampaikan oleh sang pemberi taujih benar-benar menusuk hati. Taujih yang ringan, namun dalam. Begitulah mungkin yang bisa digambarkan dari isi taujih itu. “Sebetulnya, taujih ini tidak ada kaitannya dengan acara hari ini. Tapi karena sebentar lagi adalah peringatan kelahiran Rasulullah SAW maka ada baiknya kita menelaah kembali cerita-cerita yang mungkin sudah sering kita dengar tentang Rasulullah. Hari ini ana ingin bercerita tentang saat-saat di mana Rasulullah akan dicabut nyawanya. Ternyata kecintaan Rasulullah kepada umatnya tidak hanya sebatas menyebut nama kita “Umati... umati... umati...,” tapi lebih dari itu,” beliau menjelaskan panjang lebar.

    “Tahukah kalian apa yang dikatakan Rasulullah sebelum ia meninggal?” Akhwat-akhwat yang hadir hanya terdiam, sesekali mencuri pandang ke teman sebelahnya berusaha mendapatkan jawaban. Si pemberi taujih kembali meneruskan ceritanya. “Rasulullah sakit selama 18 hari. Saat itu malaikat maut datang ke rumah Rasulullah. Kemudian Fatimah, anak Rasulullah yang membukakan pintu. Malaikat maut yang menyamar sebagai manusia itu menayakan adakah Rasulullah di dalam. Fatimah menjelaskan bahwa Rasulullah sedang sakit. Rasulullah yang berada di kamarnya mendengar percakapan mereka. Rasulullah memanggil Fatimah dan menanyakan perihal siapa yang datang. Fatimah menjelaskan bahwa ia tidak mengenal orang itu. Tapi Rasulullah menyuruh anaknya untuk mempersilakan tamu tersebut masuk. Tahulah Rasulullah bahwa yang datang adalah malaikat maut. Kemudian Rasulullah bertanya kepada malaikat maut untuk apa ia datang kesini, untuk ziarah atau untuk mencabut nyawa Rasulullah. Malaikat maut menjawab untuk melakukan keduanya jikalau engkau berkenan. “Jikalau engkau tidak berkenan maka aku akan pergi,” kata malaikat maut. Begitu istimewanya Rasulullah sampai-sampai Allah menyuruh malaikat maut untuk meminta izin kepada Rasulullah ketika akan mencabut nyawanya. “Jika Rasulullah tidak berkenan, maka jangan engkau cabut dulu,” perintah Allah. Kemudian Rasulullah bertanya kepada malaikat maut di mana keberadaan malaikat Jibril yang sangat ia cintai itu. Malaikat maut pun menjawab bahwa jika engkau membayangkannya, maka Jibril akan datang. Dan Jibril pun datang menemui kekasih Allah tersebut. “Wahai Rasulullah, mengapa engkau memanggilku?” tanya malaikat Jibril. “Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu,” jawab Rasulullah. “Apa yang ingin engkau tanyakan kepadaku, “ tanya malaikat Jibril lagi. “ Jibril yang sangat aku cintai, kabar baik apa yang engkau ketahui jika aku mati?” tanya Rasulullah. “Jika engkau mati Rasulullah maka pintu-pintu langit akan dibuka lebar dan seluruh malaikat langit akan menyambutmu,” jawab malaikat Jibril. “Wahai Jibril, adakah kabar baik lagi yang engkau ketahui jika aku mati?” tanya Rasulullah lagi. “Ada Rasulullah. Pintu surga akan dibuka dan para bidadari akan menyambutmu,” jawab malaikat Jibril. Semakin penasaran Rasulullah pun bertanya kembali. “Wahai Jibril, adakah kabar baik lagi yang engkau ketahui jika aku mati?” tanya Rasulullah. “Ada Rasulullah. Engkau adalah orang pertama yang diperkenankan memberikan syafaat bagi umatmu,” jawab malaikat Jibril. Seakan belum puas dengan jawaban malaikat Jibril, Rasulullah pun bertanya kembali. “Wahai Jibril, adakah kabar baik lain yang engkau ketahui jika aku mati?” tanya Rasulullah lagi. “Wahai Rasulullah, sebenarnya berita baik apa yang ingin engkau dengar?” tanya malaikat jibril. Seakan tahu apa yang dipikirkan Rasulullah, malaikat Jibril pun menjawab, “Allah akan mengharamkan surga untuk umat yang lain sebelum engkau dan umatmu memasukinya terlebih dahulu.” “Ternyata itu yang dipersiapkan Allah untuk umatku yang rajin membaca Al Qur’an, rajin berpuasa, dan pergi naik haji. Alhamdulillah... kalau begitu aku lega. Wahai malaikat maut, mendekatlah, dan cabutlah nyawaku,” pinta Rasulullah. Begitulah kisah saat menjelang detik-detik dicabut nyawa Rasulullah. Bisa kita bayangkan betapa Rasulullah sangat mencintai kita, umatnya. Bahkan menjelang akhir hayatnya yang ia khawatirkan bukan diri atau keluarganya sendiri tapi umat yang sangat dicintainya itu,” panjang lebar pemberi tausiyah bercerita. Raut wajah para peserta hari ini kian memerah, karena malu atas cintanya yang tak sedalam Rasulullah atau karena sedih mendengar cerita yang baru saja diungkapkan. Ada yang menopang dagu, ada pula yang terlihat berair matanya karena terenyuh mendengar kisah itu. Mudah-mudahan kita masih diberikan waktu untuk menata cinta kita kepada Rasulullah selayaknya Rasulullah pun mencintai kita. Haru biru mewarnai saat itu...

    Setelah taujih yang menggetarkan hari usai diceritakan, tiba saatnya para akhwat yang kreatif menunjukkan seberapa besar daya kreatif yang dimiliki. Dengan bekal sebuah gunting dari rumah masing-masing, walaupun masih ada yang tidak membawa, para peserta mulai serius mendengar instruksi dari trainer. “Ya, hari ini kita akan membuat bunga dengan inovasi terbaru. Ini kain planel dua buah, berwarna merah dan pink. Sebelum kita merangkainya menjadi sebuah bunga yang cantik, kita buat dahulu pola bunganya,” perintah seorang akhwat yang menggantikan trainer yang direncanakan sebelumnya, yang ternyata masih dikampus, sehingga sementara dialihkan ke akhwat tersebut yang kebetulan adalah PJ acara ini. Semua peserta siap dengan kertas di tangan masing-masing dan siap menggunting bentuk pola yang telah diajarkan. Srek... srek... srek... suara gunting kian beradu. “Untuk membuat satu bunga ini dibutuhkan tujuh sampai sembilan buah pola,” trainer pengganti menjelaskan. Masing-masing peserta sibuk dengan pekerjaannya. Salah seorang akhwat yang kebetulan membawa kamera digital segera beraksi menjepret gambar-gambar akhwat yang sedang membuat pola. Tiba-tiba datang lagi seorang akhwat senior Ikamuda. Sengaja diundang untuk memeriahkan suasanya hari ini. Beberapa menit mendapat instruksi dari trainer pengganti, akhwat senior yang baru hadir itu pun turut serta membuat bunga yang inovatif ini.

    Memang acara hari ini, bukan hanya dalam rangka memperat ukhuwah di antara TKS Ikamuda, namun juga sebagai bekal untuk mempersiapkan rencana penjualan bunga pada masa wisuda bulan Maret mendatang. Dengan bunga yang beda ini diharapkan disukai oleh semua orang terutama ketika masa wisuda nanti.

    Menjelang pukul 14.30, datang segerombolan akhwat yang baru selesai beraktivitas dalam kelompoknya. Mereka adalah para akhwat yang dinanti. Akhwat TKS SMPN 2 yang pada hari ini pun punya agenda yang tidak kalah pentingnya. Namun, mereka tetap menyediakan waktu untuk bertemu dengan akhwat Ikamuda yang lain. Merekalah empat orang akhwat penggerak dakwah di SMPN 2. Tanpa menunggu berlama-lama mereka ikutan nimbrung untuk membuat bunga ala pribadi masing-masing.

    Tukang foto khusus acara ini sudah berulang-ulang mengambil gambar, dari mulai menggunting pola, menempel, merangkai menjadi bunga, sampai memberi daun tiruan pada tangkai bunga yang berwarna hijau. Namun karena saking sibuknya mengambil gambar, ia lupa dengan pola bunganya yang belum juga terangkai. Satu per satu bunga planel pun jadi. Sampai akhirnya trainer yang dinanti datang. Ia, dengan senyum khasnya menyalami para peserta yang hadir. Ia segera duduk bergabung. “Mb, ajarin pola baru donk selain yang ini. Biar semakin kreatif gitu,” ujar salah seorang peserta. Dengan daya kreatif sang trainer yang tinggi, terciptalah sebuah pola baru selain mawar yang telah dibuat. Pola ini berbentuk bunga tulip yang unik, seperti tulip sungguhan.


    Agenda merangkai bunga belum usai. Sambil mendengarkan info yang disampaikan presidium, tangan- tangan para peserta tetap lincah memainkan peranan dalam membuat bunga. Hari ini bunga pun menjadi saksi keabadian ukhuwah Ikamuda. Pukul 15.33, azan berkumandang dengan indahnya. Tak rela bagi para akhwat Ikamuda untuk mengacuhkan suara azan yang begitu merdu dan menggetarkan jiwa. Para peserta pun khidmat mendengarkan suara azan. Setelai selesai, MC segera menutup acara ini dengan mempersilakan peserta beristighfar sebanyak-banyaknya. Kemudian ditutup dengan doa kifaratul majelis yang biasa dilantunkan untuk menutup sebuah pertemuan. Dan koor hamdalah menjadi penutup rangkaian acara hari ini. Alhamdulillah. Sungguh, hari ini adalah hari yang menyenangkan.

    Oleh: Agustya Dwi Ariani, TKS SMAN 2

    Portal Berita FKAR

    FORKAPMI

    Dokter FKAR