Medianya Generasi Muda | Dakwah Sekolah | Rohis

Forum Kerjasama Alumni Rohis Bandar Lampung

  • Featured Posts

    Selasa, 22 Maret 2011

    Amanah Terjaga Meski Jiwa Terancam

    Ketika Allah Swt memerintahkan Rasulullah Saw untuk berdakwah secara terang-terangan, maka Rasulullah serta orang orang yang beriman berhamburan keluar dari sudut sudut ruang tersembunyi untuk menyampaikan risalah dakwah kepada masyarakat Makkah secara terbuka. Rasulullah saw, kemudian berkhotbah mengumpulkan masyarakat Makkah menyampaikan berita tentang agama yang dirisalhkan Allah kepadanya, yakni agama Islam. Menyerukan agar menyembah hanya kepada satu Tuhan saja yaitu Allah Swt, meninggalkan berhala atau dewa2 yang terbuat dari kayu dan batu yang tidak lain buatan mereka sendiri.

    Khutbah Rasulullah saw, ditentang oleh para kafir Quraiys. Terlebih oleh pamannya sendiri yaitu Abu Jahal. Sejak itu dakwah Rasulullah mendapat tantangan demi tantangan, intimidasi terhadap kaum mukminin semakin membuat resah Rasulullah serta para sahabatnya. Ketika suasana Makkah semakin tak kondusif, Allah Swt, menguji Rasulullah dengan meninggalnya istrinya Siti Khadijah dan pamannya Abu Tholib. maka hilanglah perlindungan atas diri Rasulullah Saw. Keadaan ini sangat dimanfaatkan oleh kaum kafir Quraiys, mereka semakin berani dan beringas memusuhi dan memerangi serta menghadang gerak dakwah Rasulullah serta para sahabatnya.

    Dirasa dakwah sulit diterima, serta jiwa sangat terancam, maka Rasulullah memutuskan Hijrah ke Yatsrib ( Madinah ), Para Kaum Kafir Quraiys berupaya dengan berbagai cara untuk mencegahnya. maka mereka kaum Kafir QUraisy mengadakan pertemuan di Darun Nadwah ( Aula Pertemuan ) untuk membicarakan masalah hijrah yang telah dimulai oleh para sahabat Muhammad SAW.

    Tokoh tokoh Quraisy yang hadir dalam pertemuan di Darun Nadwah diantaranya : Abu Sufyan Shakhr bin Harb, Abu Jahl Amru bin Hisyam, Utbah bin Rabi’ah bin Abdi Syams, Umayah bin Khalaf al-Jumahi, Jubair bin Muth’im bin Adiy, Abu al-Bukhturi bin Hisyam, An-Nadhr bin al-Harits, Hakim bin Hizam, Zam’ah bin al-Aswad, Nabih dan Munabbih ( dua putra al-Hajjaj ), dan para pemimpin Quraisy lainnya, juga dihadiri oleh utusan utusan dari kabilah kabilah lainnya.

    Ketika musyawarah berlangsung dalam suasana yang panas karena mempertahankan pendapat2nya, lalu terdengar suara setan dalam bentuk seorang Syaikh dari Najd danberkata kepada semua yang hadir dalam Musyawarah itu ;”Para Hadirin, perkenankan aku mengajak kalian semua agar membicarakan hal ini dengan kepala dingin dan logis. Kalian semua adalah pemimpin Quraisy yang menjadi pusat perhatian bangsa arab. JIka kalian bersepakat pada satu hal, tidak akan ada seorangpun di Jazirah arab ini yang akan menetang kalian. Namun jika kalian gagal mencapai suatu kesepakatan, maka tidak akan ada seorang arab pun yang akan setia dan mematuhi suatu kesepakatan pun setelah hari ini, Oleh karena itu pergunakan akal kalian dengan baik, ambillah satu kesepakatan dengan tepat dan tidak dapat diganggu gugat. Dengan hal itulah kalian akan tetap solid dan dapat menjaga kedudukan kalian.”

    Salah seorang dari yang hadir berkata, ” Kalian berlebihan dalam menyikapi permasalahan Muhammad dan para sahabatnya. Menurut pandanganku, mereka hanyalah sekelompok pemuda yang berkerumun disekitar Muhammad yang tertarik dengan kefasihan bicaranya karena sihirnya yang hebat, tidak ada yang mesti ditakutkan dari mereka. Sebaiknya kita biarkan mereka pergi meninggalkan negeri kita. Dengan demikian Aku tidak melihat ada alasan lagi untuk berlaku buruk dan mengkhawatirkan mereka.

    Yang lain berkata, ” Kamu benar, seandainya bukan karena mereka lemah dan takut, mereka niscaya tidak lari dari sisi kita dan tidak akan meninggalkan negeri kita.

    Saling adu pendapat diantara mereka dengan Orang Najd itu semakin seru, sampai akhirnya semua yang hadir mendengar kembali Pandapat orang Najd tersebut, ”Hai anak saudaraku, aku hanya khawatir dan memberi saran pada kalian, karena mereka ( Muhammad dan para Pengikutnya yang setia ), telah melecehkan pendapat kalian, mencela nenek moyang kalian dan menghina tuhan2 kalian. karena mereka telah mempunyai keyakinan dan keimanan yang kuat kepada risalah yang dibawa MUhammad dari pada keyakinan yang kalian miliki kepada agama kalian. Dan kalian telah melihatnya walaupaun mereka disiksa sampai mati, mereka tidak pernah berniat kembali kepada agama kalian. Dan kalian telah mencoba hal itu, tetapi kalian tidak mendapat hasil yang memuaskan malah mereka semakin kuat dengan keyakinannya. Ketika mereka telah mendapat dukungan dari penduduk Yatsrib, yang paling aku khawatirkan adalah bergabungnya kabilah Aus dan Khazraj di Yatsrib kemudian menyeru kabilah kabilah lainnya. Sehinga bertambahlah kekuatan mereka dan tak terkalahkan. Setelah itu mereka menyerang kalian dan masuk makkah dengan paksa. Alangkah malangnya Bangsa Quraisy jika mereka melakukan hal itu, mereka akan menghancurkan Tuhan kalian dinegeri kalian sendiri! Bagaimana kalian dapat merasakan kehidupan yang bahagia tanpa Lata dan uza dan hidup dengan baik jika MUhammad menghancurkan Hubal. Wahai kaum, aku pernah mendengar Muhammad membaca beberapa ayat yang didalamnya menganjurkan supaya memerangi kalian, maka hindarilah, jangan sampai kalian tidak menemukan pendapat yang tepat dan keputusan yang bijak.”

    Kata kata orang Najd itu benar benar mempengaruhi orang orang yang hadir pada saat itu. Suasana hening bercampur gundah menyeruak di Daarun Nadwah, semua diliputi persaan menunggu, mereka saling pandang sambil mempertimbangkan berbagai pemikiran yang sedang bergulir di dalam benak para tokoh tersebut.

    Ditengah tengah suasana yang mencekam, bangkitlah Abu Jahal dengan congkak lalu mengeluarkan pendapat yang belum pernah terlontar sebelumnya dari orang orang yang hadir dalam pertemuan tersebut. Musuh Allah itu berkata, “Demi Tuhan kita, Menurutku kita ambil dari masing masing kabilah seorang pemuda yang tangguh, terpandang dan bisa menjadi wakil di antara kita. mereka kita bekali dengan pedang untuk menebas Muhammad hingga terbunuh. setelah itu barulah kita bisa tenang.”

    Diantara kaum Arab itu menyeruak bisikan bisikan kekaguman, memuji akan kecerdasan dan kecerdikan Abu al-hakam atau abu Jahal, mereka mersa optimis, dan merespon dengan suara yang penuh kekaguman dan persetujuan, walau diantara mereka ada yang meragukan pendapatnya, namun Musuh Allah itu mampu meyakinkan rencananya tersebut, sehingga tidak ada lagi yang meragukan pendapatnya. Sehingga Orang Najd pun kemudian mendukung pendapatnya.

    Para pemimpin Quraisy itu dengan cepat berkumpul dan menyusun rencana. Setelah sekian lama berunding maka diambillah satu pendapat yang mendapat persetujuan dari semua hadirin. Esoknya merekapun mulai menjalankan rencananya. Mereka menunggu sampai ada orang yang datang memberitahukan mereka bahwa MUhammad telah masuk rumahnya serta mengawasinya hingga dia dapat melihat bahwa MUhammad tela mengenakan kain burdahnya dan tidur diranjangnya. Hati mereka semua dipenuhi dengan rasa dengki dan benci.

    ALI TIDUR DI TEMPAT RASULULLAH SAW.
    Rumah Rasulullah SAW telah dikepung pemuda Quraisy dengan ketat, Mereka menunggu saat Rasulullah SAW keluar.

    Di dalam rumah, Rasulullah saw, sedang mengemas perlengkapan untuk hijrah yang akan dilaksanakan tepat pada saat terbitnya matahari. Didalam Rumah Rasulullah saw pula terdapat amanat orang Quraisy yang tertumpu pada pengelolaan Rasulullah saw.

    Walau Rasulullah saw sangat dimusuhi karena seringnya terjadi perbedaan yang sangat prinsipil, Mereka percaya bahwa Muhammad tidak akan melalaikan amanat tersebut. Keteguhan yang sangat kokoh dan kuat pada diri Muhammad bin abdullah terhadap amanat yang dipercayakan kepada beliau sudah terkenal di kalangan orang orang Quraisy. sekalipun orang orang berniat buruk dan berusaha membunuhnya.

    Orang orang Quraisy yang mempercayakan harta-harta mereka pada Rasulullah saw. tersebut tidak berpikir untuk menariknya sampai mereka merencanakan pembunuhan itu. Baru setelah mereka beralih pada upaya untuk membunuhnya, tahulah mereka bahwa amanah ini masih berada ditempatnya Rasulullah saw, dijaga dengan baik oleh yang bertanggung jawab atasnya.
    Rasulullah telah memutuskan untuk berhijrah dari Makkah, dan Beliau bermaksud mengembalikan amanat-amanat itu kepada pemilik-pemilliknya, karena kaum Quraisy telah mempersiapkan rencana Jahatnya kepada Beliau, Rasulullah memberikan tugas tersebut kepada anak pamannya, Ali bin Abi Thalib ra. serta Ali disuruhnya tidur di tempat Rasulullah saw. dengan mengenakan kain burdahnya agar tampak oleh yang mengawasi rumahnya bahwa Rasulullah saw tidur dan tidak meninggalkan tempatnya.

    Pemberian tugas-tugas kepada Ali ini bukanlah karena Rasulullah takut kepada mereka, tetapi merupakan inti perencanaan yang disusun oleh Rasulullah saw. untuk mengecoh orang-orang yang telah berniat membunuhnya yang telah mengepung rumah Rasulullah saw.

    Ketika Rasulullah saw. akan keluar dari pintu rumahnya, dengan pertolongan Allah Beliau mendengar Abu jahal berbicara dengan sangat sombong kepada kelompoknya, ” Muhammad mengira bahwa jika kalian mengikuti perintahnya kalian akan menjadi penguasa arab dan bangsa asing, kemudian kalian akan dibangkitkan setelah kalian mati lalu kalian diberi taman seperti taman di yordania. Jika kalian tidak melakukannya, maka dia akan membunuh kalian, kemudian kalian akan dibangkitkan setelah mati, kemudian kalian dimasukan ke dalam api neraka yang membakar!”

    Musuh Allah itu lantas tertawa diikuti oleh derai tawa teman-temannya. kemudian dia memberi isyarat dengan mulutnya agar mereka diam.

    Rasulullah saw. melangkah keluar dari rumahnya seraya mengambil segengam debu dan berkata, “Benar aku mengatakan hal itu dan kamu termasuk salah seorang di antara mereka.” Kemudian Rasulullah saw. berjalan melewati orang-orang Quraisy yang telah mengepung rumahnya sambil membaca surat Yasin dari ayat pertama hingga sembilan. Allah telah menutup mata dan telinga mereka. Kemudian Rasulullah saw. bergegas pergi untuk memulai fase baru berdakwah di madinah.

    Mereka masih mengepung rumah Rasulullah saw dan tidak menyadari apa yang telah terjadi pada mereka jika tidak diberi tahu oleh seorang Quraisy yang tidak ikut mengepung bersama mereka yang kebetulan melintasi tempat itu dan melihat kejadian tersebut.

    Orang itu berkata,” Allah telah menggagalkan rencana kalian, Muhammad telah keluar melewati kalian tanpa diketahui”.

    Orang-orang yang mengepung itu tidak mempercayai apa yang telah terjadi yang dikatakan orang tersebut. karena mereka tidak meninggalkan tempatnya hingga muhammad keluar sudah pasti dapat diketahuinya. Namun setelah orang yang lewat itu menyuruh mereka agar meraba kepala mereka sendiri, mereka terheran-heran karena banyaknya debu di atas kepala mereka sambil memperhatikan orang tersebut. Kepercayaan diri mereka telah goyah, Namun di antara mereka ada yang menunjuk ke arah tempat yang biasa digunakan Rasulullah saw. untuk tidur. Dia berkata, “Itu dia Muhammad dia sama sekali tidak bergerak sejak kami berada sekitar rumah ini.”

    Kepercayaan diri merekapun pulih setelah melihat seseorang berbalut burdah Rasulullah saw. masih tidur diranjangnya. Mereka tidak meragukan sedikitpun bahwa dia adalah Muhammad.

    Salah seorang diantara mereka berkata kepada orang yang lewat itu, ” Bukankah tadi kamu katakan bahwa kami terkecoh? Tidakkah kamu melihat Muhammad masih berada ditempat tidurnya?”

    Sehingga mereka mengira orang yang lewat itu telah murtad dan mengikuti Muhammad yang berusaha menyelamatkannya. Kemudian yang lain berkata,” Seandainya kami tidak dalam keadaan senang karena akan membunuh Muhammad. Pasti kami langsung membunuhmu. Namun kami akan membunuhmu setelah Muhammad berhasil kami bunuh karena kamu termasuk pengikutnya.

    Ketika Fajar telah terbit, Ali r.a. bangun dari ranjang Rasulullah saw. dan mendongak kearah mereka yang sedang berdiri di depan pintu.

    Ali bertanya, “Mengapa kalian berada disini?’

    “Kami ingin bertemu Muhammad,” jawab mereka.

    Ia berkata. “Rasulullah saw. telah keluar dan kalianpun melihatnya, mengapa kalian tidak berbicara padanya?”

    Orang-orang itu berbalik memandangi satu sama lain, sehingga merekapun mengerti bahwa rencana mereka telah gagal seperti yang dikatakan orang yang sedang lewat itu.

    Diantara mereka ada yang berkata, “sungguh, orang yang mengatakan bahwa Muhammad telah keluar melewati kita semua itu benar, dan bahwa Muhammad dengan mudah mengecoh kalian dengan menaruh debu diatas kepala kalian. Seandainya kalian percaya kata-kata lelaki yang sedang lewat saat itu, niscaya kalian dapat menemukan Muhammad sebelum dia jauh meninggalkan kalian, tetapi Muhammad telah keluar untuk waktu yang lama dan aku kira kalian tidak akan dapat menemukannya. Ya, seratus unta.”

    Abu Jahal berkata, “Diam wahai lelaki, mengapa kamu merendahkan orang-orang lain, sudah cukup banyak waktu yang telah kita sia-siakan. Kalian harus segera menemukannya, cepat berangkat, cari dia dilorong-lorong jalan kota Mekkah dan di pegunungan. Berpencarlah, kami sediakan seratus unta bagi orang yang dapat membawanya. Ya, seratus unta.”

    Kemudian, Abu Jahal duduk diatas batu besar dipinggir jalan dan berkata sambil mengatur nafasnya yang memburu, “Wahai kaum, temukan Muhammad, temukan dia, temukan dia.”

    Begitulah Sepenggal kisah Kecerdasan Rasulullah saw. dalam menjaga amanah. Ketika para Kafir Quraisy menitipkan barang berharganya kepada Rasulullah saw. faktor kepercayaan mereka terhadap tanggung jawab Muhammad lah yang menjadi pertimbangan Utamanya. Perbedaan pandangan maupun keyakinan yang besar sekalipun tak membuat kepercayaan tersebut menjadi berkurang.

    ” Sifat Amanahnya mampu mengontrol emosinya, walau disaat-saat jiwanya terancam, Beliau mampu mempertahankan kepercayaan orang-orang yang menumpu-kan amanat kepadanya walau mereka telah berencana untuk mencelakainya dan membunuhnya.”

    disarikan dari buku "Meneladani Kecerdasan Emosi Nabi"

    FORKAPMI