Medianya Generasi Muda | Dakwah Sekolah | Rohis

Forum Kerjasama Alumni Rohis Bandar Lampung

  • Featured Posts

    Rabu, 28 Maret 2012

    Ada Nilai Baru Dalam Setiap Pembelajaran

    Sebuah kisah, selalu saja memiliki nilai bagi masing-masing penyimak kisah. Ada sekian interpretasi dari sekian pasang telinga yang mendengarnya. Dan ternyata, ada saja hal baru yang akan kita dapatkan dari sebuah kisah yang sebenarnya sudah sering kita mendengarnya, atau bahkan kita sebagai penyaji kisah tersebut. Janganlah merasa bahwa, ”Ahh... ana sudah hafal kisah ini. Ana sudah sering dengar tentang masalah ini. Ahh... bla...bla...bla...” Karena dengan begitu, kita sudah mengunci hati kita untuk sebuah nilai kebaikan yang akan kita dapatkan. Ada nilai baru dalam setiap pembelajaran, bahkan walaupun kita adalah orang yang menyampaikannya kepada orang lain.


    Ka’ab bin Malik, siapa yang tidak kenal dg sosok sahabat ini. Sahabat yang hidup pada zaman Rasulullah Muhammad SAW. Orang yang hidup pada periode emas. Mengapa saya katakan periode emas? Karena banyak orang sekarang yang ingin merasakan hidup bersama kekasih_Nya, Muhammad SAW.

    Kisah yang sangat dikenal tentangnya (tentu saja yang bisa diambil nilainya) terjadi pada saat perang Tabuk (Salah satu perang besar pada zaman Rasulullah SAW).

    Kisah inilah yang kami dengar senja ini, di sebuah ruang tempat kami menyatukan asa, merajut mimpi dan mengokohkan barisan. Kisah yang dikemas apik oleh Ust. Sunardi, guru yang kami segani. Kisah yang disampaikan memang tidak secara detail. Namun,sarat dengan nilai.

    Ka'ab bin Malik adalah salah seorang sahabat yang tidak pernah absen pada setiap peperangan bersama Rasulullah SAW, kecuali dalam peperangan yang justru telah terencana ini. Kala orang-orang menuju Tabuk, kala seluruh kaum muslimin menyambut seruan mulia ini, Ka'ab bin Malik tertinggal karena kemalasannya sendiri.

    “Dan jika mereka mau berangkat, niscaya mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah TIDAK MENYUKAI KEBERANGKATAN MEREKA, maka Dia MELEMAHKAN KEINGINAN MEREKA, dan dikatakan (kepada mereka), ‘Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu’.” (QS. At Taubah: 46)

    Bergetar mendengar terjemah ayat ini dibacakan. Ust. Sunardi menambahkan, “Ayat ini harus menjadi bahan muhasabah untuk kita semua. Ada kekhawatiran yang harus kita rasakan. Ketika ada panggilan jihad namun hati kita ragu untuk pergi. Kita harus khawatir, jangan-jangan rasa ragu yang semakin besar itu merupakan pertanda bahwa Allah tidak menyukai keberadaan kita dalam kerja-kerja jama’ah. Jangan-jangan Allah ingin menyingkirkan kita dari jamaah dakwah. Allah memiliki banyak cara agar dakwah ini bersih.” Semakin kat getaran rasa di dada ini. Sejenak berfikir, apakah diri ini termasuk dalam golongan yang ingin disingkirkan oleh allah? Karena tidak layak dan tidak berhak untuk masuk dalam jamaah dakwah ini? Air mata menetes satupersatu... Astaghfirullahal'adziim...



    “Bina aw ghoirina, Islam akan tetap tersebar di penjuru dunia. Allah memilikibanyak cara agarIslam tegak di muka bumi ini. Dengan atau tanpa kita, Islam pasti akan tegak di muka bumi.”
    “Ikhwahfillah, ada ungkapan yang harus senantiasa kita ingat dan camkan baik-baik. Nahnu du’at qobla kulli syai’. Ungkapan yang harus senantiasa membingkai keseharian kita. Ana yakin, setelah ini ant akan dikenal oleh orang, akan semakin banyak orang yang mengenal antum. Namun Ikhwahfillah, kita adalah da’i sebelum (menjadi) apapun. Da’i bukan hanya sekedar predikat, yang aktifitasnya dilakukan pada waktu senggang.”

    “Ikhwahfillah, ada sedikit sifat munafik yang dimiliki oleh 3 orang sahabat yang tertinggal pada perang tabuk, termasuk pada diri Ka’ab bin Malik. Tidak ikutnya Ka’ab pada pasukan perang Tabuk tidaklah beralasan. Ia hanya malas untuk mempersiapkn segala sesuatunya. Tidak sakit, tidak cacat, bukan orang tua, memiliki kemampuan. Namun karena kelalaiannya, ia tidak juga bersiap-siap untuk berangkat ke Tabuk. Bahkan ketika pasukan muslim sudah hilang dari pandangan, ia tidak juga beranjak mempersiapkan dirinya. Namun, ketika pasukan muslim sudah kembali dari perang, ia merasakan ketakutan dan kekhawatiran yang amat sangat.”

    “Ka’ab adalah orang yang fasih berbicara dan berargumentasi. Sehingga, kalaupun ia akan mengajukan alasan atas ketidak ikut sertaannya dalam perang itu kepada Rasul, toh ia bisa melakukan itu. Namun, pasti Allah akan memberitahukan kepada Rosul, dan pasti kebencian Allah yang akan didapatakannya. Maka, ia memilih untuk bicara jujur kepada Rosul, bahwa ketertinggalannya dalamperang Tabuk adalah karena kelalaiannya, tidak ada alasan lain.”

    “Akibatnya Ka’ab menerima iqob dari Rasullullah SAW. Ia diboikot, diembargo, diasingkan dari pergaulan. Ia di acuhkan, tidak boleh diajak bicara oleh siapapun selama 40 hari, 40 malam. Dan ternyata, Iqob tersebut juga dikenakan kepada istrinya. Ia tidak boleh melayani suaminya selama 10 hari 10 malam, hingga genaplah hukuman bagi Ka’ab selama 50 hari 50 malam.”

    “Ikhwahfillah... hukuman yang diberikan kepada Ka’ab adalah wajar. Itu adalah bentuk pertanggung jawabannya kepada Allah. Ikhwah sekalian. Dakwah ini adalah milik Allah, bukan milik Rasulullah, bukan milik pemimpin antum. Oleh karena itu, serahkan semuanya kepada Allah.”

    “Adapun hukuman yang ditimpakan kepada istrinya adalah bentuk pertanggung jawabannya sebagai pasangan, orang yang paling dekat dengan Ka’ab. Seharusnya sang istri mengingatkan, memotivasi dan menguatkan suaminya untuk berangkat ke Tabuk. Seharusnya ia turut membantu dalam mempersiapkan perlengkapan perang. Sang istri turut andil dalam ketidak berangkatan Ka’ab pada perang Tabuk.Oleh karena itu, ia pun dikenakan Iqob oleh Rasulullah SAW.”

    “Ikhwah fillah... Keluarga memiliki peran besar dalam dakwah kita. Usahakan, setiap sisi kehidupan dan aktifitas yang kita jalani, nilai positif yang selalu kita berikan. Sehingga menutup celah untuk kita agar tidak diremehkan, agar suara kita di dengar oleh keluarga kita.”

    Terakhir... Dakwah kita harus memiliki pelindung, harus memiliki payung hukum, agar orang lain tidak dengan mudahnya menghentikan atau memberangus kita. Alhamdulillah, FKAR sudah memiliki akta notaris, sehingga memiliki payung hukum dalam aktifitasnya...

    Wallahua’lam...

    Rapat Pleno FKAR,
    Selasa, 27 Maret 2012
    @ Kantor FKAR
    Budi Kurniawan

    FORKAPMI