Medianya Generasi Muda | Dakwah Sekolah | Rohis

Forum Kerjasama Alumni Rohis Bandar Lampung

  • Featured Posts

    Jumat, 23 Maret 2012

    Sifat dan Akhlak Da'i

    Seorang da’i yang menyeru kepada Allah Ta’ala adalah manusia yang lebih utama bersifatkan dan berhiaskan dengan adab-adab dan akhlak Islami pada dirinya, yang mana hal itu memiliki pengaruh atau dampak yang bersifat langsung di jalan dakwah ilallAh dan juga dalam bermuamalah dengan manusia. Ini merupakan indikasi singkat mengenai pentingnya sifat dan akhlak yang mulia, yang harus terkumpul dalam diri seorang da’i yang menyeru kepada Allah Ta’ala. Sifat-sifat dan akhlak tersebut dijelaskan sebagai berikut:

    1.Ikhlas
    Ini merupakan pondasi dan merupakan agama yang Allah Ta’ala memerintahkan kita dengannya. Dan Allah Ta’ala tidaklah menerima sebuah amalan kecuali yang dilakukan dengan ikhlas karena mengharapkan Wajah-Nya, sekalipun seseorang telah berkorban dengan dengan pengorbanan yang besar. Ingatlah akan hadits yang menyebutkan tentang tiga jenis manusia yang pertama kali dilemparkan ke dalam neraka pada hari kiamat, wal’iyyadzu billah. Mereka adalah: “ Pembaca Al-Qur’an, orang yang dermawan dan pejuang”, bersamaan dengan besarnya pengorbanan yang mereka persembahkan berupa jiwa, harta, dan waktu, dimana semua ini merupakan hal yang paling mahal yang dimiliki oleh seseorang di dunia. Namun Allah Ta’ala tidak menerima semua itu dari mereka karena mereka tidak mengerjakannya dengan ikhlas. Sebagaimana halnya ikhlash mengikuti sifat keimanan, ia bisa bertambah dan berkurang. Karena itu, dia membutuhkan mujahadah dan pengawasan.

    2.Ilmu Syar’i
    Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
    قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ

    Maka dakwah ilallAh dan bukan kepada selain-Nya merupakan bagian dari perkara-perkara dunia, sebagaimana halnya dakwah dilakukan di atas bashirah yaitu ilmu syar’I yang tetap berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta petunjuk para salaf Rahimahumullah.
    Maka dakwah tidak hanya didasari atas semangat saja tanpa ilmu, akan tetapi seorang da’i haruslah memiliki pengetahuan yang jelas mengenai aqidah yang shahih, sunnah, sirah nabawiyah, dan pengetahuan lainnya yang dapat membantu sesuai dengan kemampuan. Sebagaimana harusnya bagi seorang da’i menjadikan nasihatnya berlandaskan atas Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana firman-Nya:
    فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ

    “Maka beri peringatanlah dengan Al Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku”(QS; Qaaf: 45)

    3.Menambah kualitas ketaqwaan
    Ini merupakan bekal yang sangat penting dan sekaligus obat yang sangat ampuh bagi seluruh permasalahan.
    Firman Allah Ta’ala:
    وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى التقوى

    “Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”(QS; Al-Baqarah:197)

    Dan wajib bagi seorang da’i yang menyeru kepada Allah untuk senantiasa membekali dirinya dengan ibadah dari berbagai pintu, seperti shalat, puasa, dzikir, sedekah, dan lain-lain. Akan tetapi tidak sepantasnya kita disibukkan oleh dakwah dari perbakalan ini, karena dia merupakan diantara sebab-sebab keberhasilan dakwah seseorang dan sebab keberkahannya.
    Marilah kita melihat sirah orang-orang shalih terdahulu kita rahimahumullah. Selain padatnya kesibukan mereka dalam menuntut ilmu dan mengajar, merekapun memiliki ibadah yang mengagumkan.

    4.Bersabar dan bermuhasabah serta bertahan terhadap gangguan
    Tidak diragukan lagi betapa besarnya kedudukan sabar dan keutamaannya serta balasan Allah Ta’ala bagi orang-orang yang bersabar serta pahalanya yang tidak terbatas pada hari kiamat. Dan ingatlah akan wasiat Luqman kepada anaknya dalam firma Allah:
    يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

    “ Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”(QS; Luqman: 17)
    Dan inilah sirah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam yang mengabarkan kepada kita tentang bagaimana beliau bertahan terhadap gangguan fisik dan mental, hal-hal yang telah dilalui pula oleh para Nabi dan Rasul terdahulu ‘Alaihimus Salam dan para shahabat Radhiyallahu ‘Anhum di jalan dakwah ilallAh dengan berbagai pengorbanan fisik mereka.

    5.Lemah Lembut
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengabarkan bahwasanya lemah lembut merupakan diantara hal yang dicintai oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dan lemah lembut itu diperoleh dengan latihan.
    Al-Hilmu adalah bersabar terhadap orang jahil dan orang yang keras serta menjauhi amarah dan menahan diri ketika mendapatkan hal-hal tersebut. Seorang yang menyeru kepada Allah Ta’ala lebih membutuhkan akhlak yang mulia ini dibandingkan selain mereka, agar dia tidak terjatuh kepada hal yang tidak terpuji. Dan ingatlah sirah Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika bersama dengan seorang arab badui yang kencing di mesjid, dan orang yang menarik baju beliau dari belakang karena meminta sedekah, dan yang semisalnya.

    6.Hikmah
    Allah Ta’ala berfirman:
    ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

    “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik”(QS; An-Nahl:125)
    Hikmah adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Maka wajib bagi seorang da’i mengetahui kapan dan bagaimana dia menggunakan wasilah-wasilah dan uslub-uslub dakwah yang sesuai.
    Sebagaimana halnya dia mampu menempatkan dan menyesuaikan mana sasaran yang dekat dan yang jauh yang disesuaikan dengan kemaslahatan umum.

    7. Memperbanyak Istikharah dan Meminta Petunjuk
    Dalam riwayat disebutkan bahwasanya dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alihi wa Sallam mengajarkan para sahabatnya untuk beristikharah dalam segala hal sebagaimana halnya beliau mengajarkan mereka dalam Al-Qur’an. Dimana beliau adalah manusia yang paling banyak meminta petunjuk.
    Maka seorang da’i lebih membutuhkan sifat yang mulia ini dari selain mereka. Betapa banyak langkah atau amalan dalam dakwah, yang semua itu membutuhkan istikharah dan petunjuk dalam melakukannya.

    8.Bartahap dalam Berdakwah dan Mengajar
    Mengedepankan yang terpenting dari yan penting, khususnya terhadap orang-orang yang tenggelam kedalam kemungkaran dan hawa nafsunya. Maka dari itu, diakhirkannya pengharaman khamr pada awal Islam disebabkan karena besarnya ketergantungan manusia terhadapnya, kemudian datanglah setelah itu secara bertahap. Dan ketika datang utusan dari Tsaqif kepada Rasulullah Shallallu ‘Alaihi wa Sallam ke Madinah, mereka meminta beliau untuk membiarkan sesuatu dari berhala-berhala mereka, namun beliau menolaknya. Kemudian mereka meminta untuk meninggalkan shalat, maka Rasulullah bersabda: “Tidak ada kebaikan dalam agama tanpa ada shalat didalamnya”. Kemudian mereka mensyaratkan tidak adanya jihad dan sedekah, maka Rasulullah menerimanya, dan beliau bersabda: “ Mereka akan bersedekah dan berjihad apabila mereka masuk Islam”.

    9.Tidak Tergesa-gesa dalam Mendapatkan Hasil
    Kewajiban para da’I adalah menyampaikan, dan adapun hasilnya maka itu kembali kepada Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:
    لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

    “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya” (QS; Al-Baqarah: 272)
    Dan juga firman-Nya:


    فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ

    “Karena Sesungguhnya tugasmu Hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka” (QS; Ar Ra’d: 40)
    Dan FirmaNya:
    وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

    Dan Allah telah mengabarkan tentang Nabi Nuh ‘Alaihis Salam dengan firman-Nya:
    “dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit” (QS; Huud: 40)
    Walaupun beliau tinggal bersama kaumnya selama 950 tahun. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengabarkan mengenai sebagian dari para Nabi, bahwasanya ada diantara mereka yang datang dengan membawa seorang lelaki, dan ada Nabi yang membawa dua orang lelaki, bahkan ada pula Nabi yang tidak membawa seorangpun. Sebagaimana dalam sebuah hadits shahih muttafaq ‘alaih.
    Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam kepada para sahabat beliau:
    “Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tergesa-gesa”
    Dan lihatlah saudaraku, bagaimana sikap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memperingati kaumnya dari atas gunung Shafa, lalu mereka mendustakannya dan melecehkannya, dan Abu Lahab berkata: “Celaka engkau, apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?”
    Dan juga bagaimana sikap beliau pada hari Fathul Akbar ketika beliau bersabda kepada mereka:
    “Apakah kalian mengira bahwasanya aku akan berbuat sesuatu yang buruk terhadap kalian?”
    Maka lihatlah bagaimana kesabaran dan ketabahan serta pengorbanan beliau dalam dua sikap beliau yang agung ini.

    10. Tidak Mengharapkan Balasan dari Manusia
    Sesungguhnya syi’ar para Nabi dan Rasul Allah adalah sebagaimana firman-Nya:


    وَيَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ

    “Dan (Dia berkata): "Hai kaumku, Aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. upahku hanyalah dari Allah”(QS; Huud: 29)
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    “Zuhudlah terhadap dunia maka Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang di tangan manusia maka manusia akan mencintaimu” (Shahih Jami’: 922)
    Sebagaimana halnya bagi seorang da’i untuk fokus dan bersungguh-sungguh terhadap akhirat dibandingkan dengan dunia dan memutuskan cita-cita dan angan-angannya dari apa yang ada di tangan manusia.
    Wallahu A’lam.

    By: Muhammad Qasim Saguni

    FORKAPMI