Medianya Generasi Muda | Dakwah Sekolah | Rohis

Forum Kerjasama Alumni Rohis Bandar Lampung

  • Breaking News

    Rabu, 06 Maret 2013

    DUA SAYAP TAUBAT

    Jabir bin Abdullah Al-Anshari meriwayatkan kisah hidup seorang pemuda Anshar bernama Tsa’labah bin Abdul Rahman. Sejak masuk islam ia selalu setia melayani Rasulullaoh SAW dengan cekatan.

    Suatu ketika Rasulullah mengutusnya untuk suatu keperluan. Saat menjalankan tugas tersebut kebetulan ia melewati sebuah rumah milik salah seorang shahabat Anshar. Tiba-tiba secara tak sengaja ia melihat wanita penghuni rumah itu yang sedang mandi. Serta merta ia ketakutan. Ia sangat khawatir wahyu akan turun kepada Rasulullah berkaitan dengan perbuatannya. Maka ia pun segera berlari menjauhi pusat kota. Ketika sampai di pegunungan yang ada di antara kota Makkah dan Madinah, ia pun mendakinya.


    Tentu saja rasulullah merasa kehilangan. Dan hal itu berlangsung selama empat puluh hari. Hingga akhirnya Allah mengutus malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu., “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu memberikan salam dan berfirman kepadamu yan isinya: bahwa seorang laki-laki dari umatmu berada di antara pegunungan ini dan telah memohon perlindungan kepada-Ku.”

    Mendengar wahyu tersebut kemudian beliau bersabda, “Wahai Umar dan Salman, berangkatlah kalian sekarang dan ajaklah kembali Tsa’labah bin Abdurrahman kemari.”

    Keduanya pun segera berangkat menyusuri jalan perbukitan yang ada di Madinah, hingga bertemu dengan seorang penggembala bernama Dzufafah. Umar bertanya, “Apakah engkau tahu seorang pemuda bernama Tsa’labah yang tinggal di pegunungan ini?”

    “Mungkin yang engkau maksud adalah seorang yang lari dari neraka Jahanam?” jawab Dzufafah.

    “Dari mana engkau tahu bahwa dia lari dari neraka Jahanam!” tanya Umar lagi.

    “Sebab setiap malam dia keluar kepada kami dari kawasan antara pegunungan itu sambil meletakkan tangan di atas kepalanya sambil berkata, ‘Wahai Allah, mengapa tidak Engkau cabut saja nyawaku dan Engakau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkanku untuk mendapatkan keputusann?’” jawab Dzufafah.

    “Itulah orang yang sedang kami cari,” jawab Umar sigap.

    Kemudian berangkatlah mereka menemui Tsa’labah. Ternyata benar, ketika hari menjelang malam Tsa’labah keluar. Di sekitar lerang pegunungan mereka menemuinya.Umar kemudian menghampiri dan mendekapnya seraya membujuknya untuk kembali kepada Rasulullah.

    “Wahai Umar, adakah Rasulullah mengetahui dosaku? Tanya Tsa’labah.

    “Aku tidak tahu, hanya saja kemarin beliau menyebut-nyebut namamu dan kemudian memerintahkan agar aku dan Salman mencarimu,” jawab Umar.

    “Aku mohon kau tidak membawaku kepada beliau, kecuali bila beliau sedang shalat,” pinta Tsa’labah.

    Setelah sampai ke tempat tujuan, Tsa’labah langsung ikut shalat berjamaah bersama Rasulullah. Ketika itulah Rasululah membaca sejumlah ayat Al Quran. Mendegar bacaan beliau, tiba-tiba ia jatuh pingsan.

    Setelah salam, Rasulullah bersabda, “Wahai Umar dan Salman, bagaimana dengan Tsa’labah?”

    “Itu dia, ya Rasulullah!” jawab mereka sambil menunjuk ke arah sosok tubuh ynag sedang berbaring.

    Rasulullah segera berdiri dan menghampirinya. Beliau mengerak-gerakkannya sehingga ia pun siuman kembali.

    “Apa yang yang menyebabkan engkau pergi dariku?” tanya beliau lembut.

    “Dosaku, wahai Rasulullah!”jawab Tsa’labah.

    “Bukankah pernah kutunjukkan kepadamu tentang ayat yang dapat menghapuskan dosa dan kesalahan? Bacalah (QS Al Baqarah 201),”tuntun Rasulullah.

    “Benar, wahai Rasulullah. Tapi dosaku terlalu besar.”

    “Akan tetapi kalam Allah itu jauh lebih besar lagi,” tegas beliau.

    Setelah itu beliau memerintahkannya untuk pulang. Setibanya di rumah, ia jatuh sakit selama delapan hari.

    Mendengar hal itu, Salman menghadap Rasulullah, “Wahai Rasulullah, masihkah engkau memikirkan Tsa’labah? Ia kini sedang sakit keras,” cerita Salman.

    “Mari kita bersama-sama menjenguknya,” ajak beliau.

    Setibanya di kediaman Tsa’labah, Rasulullah meletakkan kepala Tsa’labah di pangkuan beliau. Tapi, ia berusaha menggeser kepalanya kembali dari pangkuan beliau.

    “Mengapa, kamu geser kepalamu dari pangkuanku?” tanya beliau.

    “Karena kepala ini penuh dengan dosa,” jawab Tsa’labah murung.

    “Apa yang kamu keluhkan?” tanya beliau lagi.

    “Seperti ada gerumutan semut-semut diantara tulang, daging dan kulitku,”jawab Tsa’labah menahan sakit.

    “Apa yang kamu inginkan?” tanya beliau lagi.

    “Ampunan dari Tuhanku,” jawab Tsa’labah lebih mantap.

    Kemudian turunlah Jibril menemui Rasulullah, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanku membacakan salam untukmu dan berfirman kepadamu, ‘Andaikata hamba-Ku ini menghadap-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, Aku akan menyambutnya dengan ampunan-Ku sepenuh bumi pula.”

    Rasulullah kemudian memberikan wahyu itu kepada Tsa’labah. Seketika itu juga Tsa’labah terpekik gembira dan tak lama kemudian wafat.

    Rasulullah langsung memerintahkan para shahabat untuk segera memandikan dan mengkafani jenazah Tsa’labah.dan ketika selesai menshalatkannya, beliau berjalan sambil berjingkat-jingkat.

    Setelah acara pemakaman selesai, slah seorang shahabat bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau tadi kami lihat berjalan sambil berjingkat?”

    “Demi Dzat yang telah mengutusku dengan benar sebagai Nabi, sungguh aku tidak mampu meletakkan telapak kakiku di atas bumi, karena malaikat yang turut melayat Tsa’labah sangatlah banyak,” jawab beliau.

    Sayap pertama: Takut/khauf terhadap dosa (sekecil apapun)

    Subhanallaoh! Begitu takutnya terhadap satu dosa (sekali lagi satu dosa), Sang sahabat menghukum dirinya sedemikian berat.  Hukuman yang membuatnya sakit keras itu disudahinya sampai ia mendapatkan jaminan bahwa ia benar-benar telah diampuni.  Hingga Allah pun memberitahukan ampunan-Nya secara langsung di dunia, secara khusus kepadanya.  Bahkan, penyesalannya terhadap dosa kecil (itu pun tidak disengaja), sampai melibatkan Jibril dan para malaikat dalam jumlah besar untuk turut serta memberi peghormatan secara langsung di akhir hayatnya.

    Berapa banyak dosa kita? Seberapa besar yang termasuk dosa besar? Berapa pula dosa kecilnya? Nastaghfirulloh! Hari-hari yang kita lalui kebanayakan merupakan hari-hari dosa.  Tiada hari tanpa dosa.

    Mata, telinga, mulut, tangan, kaki, hati, fikiran dan seluruh anggota tubuh lainnya  ternyata punya dosanya sendiri-sendiri.  Rumah tempat tinggal kita, masyarakat dan lingkungan kita berada dalam masyarakat yang lebih didominasi nilai-nilai jahiliyah, dengan demikian sangat menggiring kita untuk berbuat dosa.

    Bukan hanya mendeteksi banyaknya dosa yang telah dilakukan, tetapi yang lebih penting adalah seberapa sensitif sikap kita terhadap setiap satuan dosa yang berbilang-bilang jumlahnya itu? Sebesar apa kadar penyesalan dan kegelisahan kita terhadap masing-masing dosa itu? Sementara apa kerinduan kita terhadap ampunan Allah terhadap tumpukkan kesalaha tersebut? Seberapa deras pancaran istghfar yan mengalir dari hati dan lisan kita untuk semua dosa itu? Seberapa dalam genangan air mata taubat kita? Seberapa takut kita terhadap gambaran siksaan yang amat pedih di dalam kubur dan akhirat sebagai balasan atas dosa-dosa itu?

    Biasa saja. Mungkin  itu yang lebih sering terjadi pada diri kita. Kesibukkan dunia dan berbagai kesenangannya lebih kuat menyedot perhatian kita.  Kebanyakan kita adalah “ghofilun” (orang-orang yang lalai). Padahal sesuatu yang amat dahsyat tidak lama lagi akan segera terjadi pada diri kita: yakni ‘KEMATIAN’

    Katakanlah: : “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan kembali kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al Jumu’ah: 8)

    dan  HARI KIAMAT

    Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadaNya). (QS. Al Anbiya: 1)

    Sayap kedua: Optimimis/harapan/raja’ akan ampunan Allah

    Kisah Tsa’labah juga mengajarkan, taubat tidak terbang dengan hanya satu sayap: rasa takut (khouf). Sebab ia justru akan menjerumuskan kita pada penyesalan berlebihan yang berujung pada keputusasaan. Itu sama saja menganggap Allah ‘jahat’ karena seolah-olah Dia tidak mau memaafkan.  Karenanya taubat harus terbang bersama sayap yang lainnya yakni harapan (roja'’).

    Sebesar apapun dosa yang dilakukan seorang hamba tidak boleh sampai membuatnya lupa bahwa Allah Maha Pengampun dan Penyayang.

    Katakanlah :”Hai hamba-hambaku yang melampaui batas atas diri mereka sendiri., janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah megampuni dosa-dosa semuanya.  Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. 39:53)


    Sumber: Majalah Hidayatullah dan beberapa sumber lain.

    Portal Berita FKAR

    FORKAPMI

    Dokter FKAR