Medianya Generasi Muda | Dakwah Sekolah | Rohis

Forum Kerjasama Alumni Rohis Bandar Lampung

  • Featured Posts

    Senin, 11 Maret 2013

    PERSEMBAHAN HUMAIRA INDONESIA




    Mudahkah menjadi orangtua? Sebagian orangtua mungkin mengira demikian. Mereka kira setelah menikah dan punya anak lantas mereka otomatis siap menjadi orangtua yang cakap dan baik. Kalau ada yang berfikir begitu, berarti dia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. 

    Yang benar menjadi orangtua itu tidak mudah. Apalagi di zaman neo jahiliyah seperti sekarang ini. Mengemban amanah mengasuh dan mendidik anak hingga kelak mereka menjadi insan yang tangguh dan shalih adalah tugas yang sangat berat.

    Kemampuan menjadi orangtua yang cakap dan baik tidak jatuh dari langit begitu saja, melainkan harus ditempuh dengan banyak belajar. Pelajaran pertama biasanya didapat dari orangtua para orang tua itu. Misalnya, jika si Fulan kini menjadi ayah, maka cara si Fulan mendidik anak-anaknya biasanya mengikuti bagaimana cara si Ayah Fulan dulu mendidik dirinya. Kalau si Fulan dulu dididik ayahnya dengan cara lemah lembut, maka si Fulan juga akan mendidik anaknya dengan cara lemah lembut pula. Sebaliknya, kalau si Fulan dulu dididik ayahnya dengan cara kekerasan, biasanya si Fulan juga akan mendidik anaknya dengan cara kekerasan. Sehingga terjadi semacam pewarisan sistem mendidik dari satu generasi ke generasi berikutnya. 

    Pelajaran kedua diperoleh dari lingkungan sosialnya. Bisa dari saudara, rekan-rekannya, gurunya, atau dari buku dan majalah yang dia baca. Pelajaran jenis kedua ini tidak kalah kuat pengaruhnya pada seseorang, tetapi berapa banyak pelajaran yang dia dapat sangat tergantung dari keaktifan belajar dari lingkungan sosialnya itu. 

    Mereka yang aktif belajar sudah tentu memiliki banyak khazanah pengetahuan tentang bagaimana mendidik dengan baik dan benar. Namun orangtua yang seperti ini jumlahnya sedikit saja ketimbang orang tua lain yang cuek, tidak mau belajar. Kebanyakan hanya mengandalkan insting dan pelajaran dari orang tua dulu, meski pelajaran itu mungkin mengandung kekeliruan. 

    Akibatnya dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai orang tua yang terkaget-kaget dan kebingungan menghadapi problema mengasuh dan mendidik anak-anak. Bahkan belum lama ini di Bandung ada seorang ibu terdidik yang tega membunuh ketiga anak kandungnya karena kegamangannya mempersiapkan masa depan anak-anaknya. 

    Masalah seperti ini semakin hari semakin serius dan semakin parah, karena gempuran budaya jahiliyah semakin hari semakin masif menyerang keluarga kita. Gempuran ini langsung datang ke rumah kita, melalui tayangan di televisi, VCD, internet, telepon seluler, dan media cetak.

    Dampak negatifnya sudah terasa di sekitar kita. Pada tahun 2002 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan penelitian tentang perilaku seks remaja kita pada enam kota di Jawa Barat. Dari penelitian itu diperoleh data, sekitar 40% remaja kita yang berusia 15-24 tahun mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah.

    Hasil temuan ini kemudian diperkuat temuan VCD berisi adegan pelajar SMA di Cianjur yang melakukan hubungan seks di ruang kelasnya.

    Elly Risman adalah satu dari jutaan orang tua yang juga merasa cemas dan gelisah melihat fenomena mengerikan seperti itu, yang kemudian menguatkan hati untuk melakukan perlawanan dan pencegahan. 

    Menurutnya, selama ini orang tidak sadar bahwa banyak terdapat kekeliruan pola asuh yang mereka terapkan pada anak-anak, sehingga berakibat buruk di kemudian hari “Sikap anak yang negatif itu karena salah asuh orangtuanya.”, jelasnya.

    Kepada wartawan Hidayatullah, Bahrul Ulum, Saiful Hamiwanto, dan fotografer Ahmad Lutfi Efendi, yang berkunjung ke kantor Elly Risman, beliau memperlihatkan dua buah album foto berukuran besar. Album itu berisi puluhan kertas berukuran kecil yang masing-masing berisi pertanyaan dari peserta pelatihan yang bersekolah di kelas 4-6 SD. Apa isi pertanyaan mereka?

    Dahsyat! Mereka sudah bisa bertanya tentang cara-cara berhubungan suami istri yang memuaskan, masturbasi, oral seks, serta fungsi kondom. Kok bisa?

    Bagaimana tidak bisa? Setiap hari anak kita diterpa dengan tayangan-tayang porno di televisi, VCD, tabloid, komik, internet, HP, bahkan ada pornoaksi yang dilakukan orang-orang dewasa di sekitarnya.

    “Anak Indonesia sudah dijadikan komoditi industri seks internasinal. “ Ungkap Elly Risman lugas. 

    Melihat problematika yang dihadapai orang tua saat ini, nampaknya perlu ada perbaikan pola pengasuhan dan pola komunikasi antara orangtua dengan anak-anaknya. 

    Anak-anak bisa menjadi kehilangan kontrol karena pendidikan agamanya lemah. Komunikasi dengan orangtua sangat buruk. Misalnya anak bertanya menenai kondom tidak boleh, bertanya tentang perkosaan dan sodomi dimarahi. Padahal semua itu mereka lihat secara gamblang di TV. Orangtua tidak siap jadi orangtua. Tidak tahu tahap perkembangan anak. Mereka masih memegang pendidikan seks sebagai sesuatu yang tabu, tidak layak dibicarakan. Kalaupun ingin berbicara tidak tahu bagaimana memulainya, sampai kapan dan sejauh mana. 

    Anak itu amanah, kalau kita salah mendidik, dia bisa menjadi ujian, bahkan bisa menjadi musuh. Orangtua sering tidak memuliakan anaknya. Kalau mereka bertanya malah dibentak. Padahal setiap anak punya hak untuk mengetahui sesuatu yang dia lihat. Mereka butuh informasi yang benar dan lurus, termasuk masalah seks. 

    Pernahkah orangtua bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita penuhi hak anak-anak kita? Sudahkah kita mendengar perasaan mereka? Sudah cukupkah kita memberi bekal kepercayaan diri yang benar pada mereka? Bukankah bekal kepercayaan diri mereka sudah banyak kita curi dengan cara pendidikan yang salah? Bukankah kita memanipulasi waktu kita sehingga kita tidak punya cukup waktu untuk anak-anak kita? Bukankah kita selama ini terbelnggu dengan kesibukkan kita sendiri, sehingga tidak dapat membangun pola komunikasi yang sehat dengan anak kita?

    Terkadang orang tua masih bersikap “double bounce” (Plin=plan) pada anak. Suatu saat dibolehkan, tapi pada saat lain dilarang. Dampaknya anak merasa tidak mampu, tidak berharga, sehingga gampang dipengaruhi. Pendidikan agama mestinya datang dari ornag tua sendiri. Bisa kita simpulkan bahwa pekerjaan menjadi orangtua adalah pekerjaan terberat yang pernah ada di dunia ini. 

    Sekarang ini kepala si anak seperti di panah dari segala penjuru; dari atas, bawah; kanan; kiri; depan; belakang. Mereka dituntut macam-macam. Prestasilah, ranking, dan masih banyak lagi. Padahal Tuhan menciptakan manusia itu berbeda-beda. Tapi kita menuntut berlebihan, seperti harus mendapat ranking. Itu artinya semua mata pelajaran harus bagus. Padahal tidak semua anak bisa bagus di seluruh mata pelajaran. Ada yang kuat matematikanya, seni, atau bahasa. Dalam teori “Multiple Intelligent” cerdas itu macam-macam. Ada cerdas angka, cerdas ruang, dan cerdas gerak. Kita harus paham termasuk kedalam kelompok mana anak kita berada. 

    Orangtua harus mengetahui kecerdasan yang dimiliki anaknya. Jika menuntut berlebihan sama saja dengan tidak memenuhi hak anak. Itu baru satu panah dari orangtua. Lalu sekolah, guru-gurunya, lingkungannya, dan semuanya ‘memanah’ dia. Lalu ada tawaran baru dalam bentuk pornografi. Banyak beredar komik porno, VCD porno, internet porno, narkoba, atau ajakan berkelahi. Semua itu mungkin saja terjadi jika tidak terbangun komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak. 

    Menjadi orangtua yang cerdas 
    Kita harus belajar menjadi orang tua yang baik. Masa depan Indonesia saat ini tergantung pada generasi muda. Karena itu setiap orang tua mempunyai kewajiban “menyelamatkan” anaknya. Ayah-ibu mutlak bekerjasama. Mendidik anak anak harus dua-duanya, bukan tugas ibu saja atau ayah saja. Bangun pola komunikasi yang sehat antara ayah ibu dan anak. Investasi yang paling tinggi harganya adalah investasi pada anak. 

    Luangkan waktu untuk membangun pola komunikasi yang sehat. Membaca merupakan kegiatan positif yang dapat dikembangkan. Selain dapat menambah wawasan anak, saat proses membaca bentuk komunikasi positif pasti akan tibul dari pertanyaan yang diajukan anak kemudian orangtua menjawab, memaparkan, dan memberikan contoh kongkret. 

    “Bed time story”, luangkan 5 menit untuk itu. Maka sampai anak kita dewasa dia pasti akan mengingat teladan-teladan yang telah kita berikan di lima menit menjelang tidurnya. Dari lima menit itu kita bisa menggali, apa saja yang sudah dia lakukan seharian tanpa kita disisinya. Waktunya hanya 5 menit, tapi dampaknya tidak akan lekang oleh waktu.

    Menanggapi fenomena-fenomena salah asuh dan kondisi anak-anak Indonesia secara umum, dan Provinsi Lampung khususnya, maka De’ Event Organizer bekerja sama dengan Humaira Indonesia akan mengadakan serangkaian seminar parenting nasional yang bertema “Membangun Pola Komunikasi yang Sehat dalam keluarga Melalui Bed Time Story”. 

    Seminar ini diharapkan memiliki peranan besar dalam membangun pola asuh yang baik melalui pola komunikasi yang sehat. Sehingga setelah seminar ini berlangsung, orang tua di Provinsi Lampung lebih teredukasi dalam menentukan pola asuh yang tepat bagi buah hati mereka. 

    Dalam rangkaian seminar ini juga akan dilanjutkan seminar sex education untuk remaja putri, untuk menyelamatkan remaja putri di Provinsi Lampung dari tindakan yang menjurus pada sex bebas. Sebagai wujud keprihatinan kami terhadap prilaku sex pranikah yang sudah menjadi hal yang tidak asing lagi di kalangan masyarakat kita.

    @...Hotel Markopolo Bandar Lampung
                   ...>> 28 April 2013 

    FORKAPMI