Medianya Generasi Muda | Dakwah Sekolah | Rohis

Forum Kerjasama Alumni Rohis Bandar Lampung

  • Breaking News

    Kamis, 11 April 2013

    Akhir Gemilang Perjalanan Panjang

    Menelusuri kisah hidupnya mengingatkan kita pada kesungguhan, pengorbanan, juga perjalanan panjang nan melelahkan.  Deret waktu menjadi saksi betapa setiap harinya jiwanya kian mantap dengan tujuan hidup yang telah ia tentukan. Jauh jarak yang membentang dari Persia ke Madinah tak menyurutkan nyalinya menghadapi berbagai tantangan. Berguru dari satu negeri ke negeri yang lain, menempuh jarak bermil-mil, ditipu rombongan kafilah yang licik, dijual sebagai budak kepada orang Yahudi, semua ia hadapi dengan kesejatian tekad yang tak tergoyahkan. 

    Apalah yang membuatnya setegar itu? Padahal untuk pemuda sepertinya nampak semua susah payah itu tak perlu. Berayahkan seorang bupati daerah Asfahan di Persia (Iran sekarang), hidupnya tak pernah kekurangan. Meski harus mengelola perkebunan yang tidak sedikit jumlahnya, sang Ayah tak pernah memintanya bekerja. Sehari hari tugasnya hanya menjaga api di rumah agar tetap menyala, sebab secara turun temurun keluarganya adalah penganut Majusi (penyembah api), kepercayaan asli rakyat Persi.



    Semua berawal ketika sang ayah sedang benar-benar terdesak lalu memintanya pergi mengawasi salah satu perkebunan. Di tengah perjalanan, ia mendapati sebuah gereja di mana kaum Nasrani saat itu sedang beribadah. Ia begitu terkesima melihat cara ibadah  mereka. Lupa akan tugasnya mengawasi kebun, ia habiskan waktu di gereja itu hingga petang. Ia baru pulang setelah sang ayah mengirim utusan.

    Petang itu segera ia menghadap sang ayah, mengutarakan kekagumannya pada agama Nasrani. Serta merta sang ayah pun marah, merantainya lalu memenjarakannya. Tak berputus asa meski dipenjarakan, sebuah cita-cita semakin mengakar kuat di benaknya, pergi ke Syam (Syiria), negri di mana ia bisa mempelajari Injil. Hingga pada suatu hari ia berhasil melarikan diri dari kediaman ayahnya dan bergabung dengan para saudagar yang hendak berdagang ke Syam. Perjalanan panjang dimulai dari sana.
    Sesampainya di Syam, ia berguru pada seorang uskup ternama. Namun kebiasaan uskup yang sering menipu jamaah dan menimbun kekayaan membuatnya kecewa. Tak lama waktu berselang, uskup tersebut wafat dan seorang alim diangkat untuk menggantikannya. Ia pun dapat benar-benar belajar ilmu agama dari uskup yang baru. Namun, belum puas ia menimba ilmu, uskup yang arif itu harus menjemput takdir Alloh SWT. Sebelum ajalnya, ia berwasiat pada si pemuda agar melanjutkan berguru kepada seorang alim di Mosul (Irak sekarang). Pemuda itu pun melanjutkan perjalanannya setelah memakamkan gurunya.
    Tiba di Mosul, ia berjumpa dengan seorang alim yang diwasiatkan gurunya. Benar seperti yang dikatakan mendiang gurunya, orang alim yang ditemuinya itu rajin beribadah, merindukan akhirat, serta tidak mengganti atau meninggalkan sebagian isi Injil. Ia pun semakin bersemangat berguru pada orang alim itu. Namun, tak lama kemudian sang guru pun dipanggil Alloh SWT. Sang guru berwasiat agar si pemuda melanjutkan berguru pada seorang yang juga alim dan murni tauhidnya di Nashibin (kota di Aljazair). Setibanya di Nashibin, ia pun tak bisa berguru lama karena sang guru juga dipanggil Alloh SWT. Beliau berwasiat kepada si pemuda untuk pergi ke Amuria (kota di Romawi).
    Di Romawi, ia berguru sambil bekerja, hingga memiliki beberapa ekor sapi dan kambing. Namun tak lama waktu berselang, sang guru pun menjemput takdir yang telah Alloh gariskan. Pada detik-detik akhir hidupnya, beliau berwasiat agar si pemuda pergi ke suatu tempat di Arab kemudian berhijrah menuju daerah antara dua perbukitan di mana antara dua bukit itu tumbuh pohon-pohon kurma. Sebab di tempat itu akan muncul nabi penerus agama Ibrahim. Nabi itu mau makan hadiah tetapi tidak mau menerima sedekah, dan di antara kedua bahunya terdapat tanda cincin kenabian.
    Sepeninggal gurunya, pemuda itu memutuskan pergi ke jazirah Arab dengan menumpang rombongan kafilah. Untuk bisa menumpang rombongan itu, ia berikan semua ternak yang ia miliki. Tapi ternyata ia ditipu. Di tengah perjalanan, tepatnya di Wadil Qura’, ia dijual sebagai budak kepada orang Yahudi. Tapi Alloh punya rencana indah bagi si pemuda di balik cobaan itu. Suatu hari di tengah siksaan yang menderanya, kemenakan si Yahudi membelinya lalu membawanya serta ke Madinah. Pemuda itu pun semakin yakin bahwa perjumpaannya dengan Rasulullah SAW semakin dekat.
    Benar seperti yang ia duga, saat itu masyarakat Madinah sedang ramai membicarakan nabi baru penyempurna agama Ibrahim yang datang dari Mekah. Semakin besar keingintahuannya. Bergegas ia mencari Rasulullah lalu memberinya makanan sebagai sedekah. Rasulullah tak memakannya, tapi memberikannya kepada para sahabat. Semakin penasaran, si pemuda kembali lagi dengan makanan yang ia berikan sebagai hadiah. Rasulullah pun memakannya sedikit dan membaginya dengan para sahabat. Dengan dua pembuktian itu, ia tinggal membuktikan tanda kenabian yang satu lagi. 
    Selanjutnya si pemuda menemui Rasulullah saat beliau berada di kuburan Baqi’ al-Gharqad. Beliau sedang mengantarkan jenazah salah seorang sahabat. Pada saat Rasulullah melihat si pemuda sedang memperhatikannya, beliau mengetahui bahwa si pemuda sedang mencari kejelasan tentang ciri kenabian. Beliau pun lalu melepas kain selendang dari punggungnya. Si pemuda berhasil melihat tanda cincin kenabian itu dan benar-benar meyakini bahwa beliau seorang Nabi. Ia pun telungkup di hadapan beliau dan memeluknya seraya menangis. Mendengar kisah hidupnya yang teramat berat, Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabat untuk membantu menebusnya dari tuannya. Setelah terbebas dari perbudakan, tak ada satu perang pun yang ia lewatkan.

    Salman Al Farisy radhiyallahu anhu. Dialah  pemuda itu. Pemuda yang kemudian mengajukan saran untuk menggali parit saat perang Khandaq, melumpuhkan pasukan Quraisy dan sekutunya. Dia pulalah penemu batu yang telah memancarkan rahasia dan ramalan ghaib, yakni ketika ia meminta tolong kepada Rasulullah SAW menghancurkan sebuah batu besar yang menghalangi penggalian. Ia berdiri di samping Rasulullah SAW, menyaksikan percikan cahaya terang yang memancar dan mendengar berita gembira dari Rasulullah SAW tentang kegemilangan Islam menaklukkan imperium-imperium besar. Dan dia masih hidup ketika ramalan itu menjadi kenyataan. Dilihatnya kota-kota di Persi dan Romawi, mahligai istana di Shana, di Mesir, di Syria dan di Irak.

    Dialah Salman Al Farisy yang mencintai ilmu. Betapa ia berani meninggalkan agama nenek moyangnya bangsa Persi, mempelajari Injil lalu memeluk Islam. Dialah Salman Al Farisy yang berkemauan kuat. Betapa ia telah meninggalkan kekayaan berlimpah dari orang tuanya dan rela hidup dalam kemiskinan demi kebebasan pikiran dan jiwanya. Perjalanan panjang telah membawanya pada akhir hidup yang gemilang, meraih tujuan yang ia cita-citakan. [SKC]

    Portal Berita FKAR

    FORKAPMI

    Dokter FKAR