Medianya Generasi Muda | Dakwah Sekolah | Rohis

Forum Kerjasama Alumni Rohis Bandar Lampung

  • Featured Posts

    Minggu, 01 Desember 2013

    Belajar Profesional

    Setiap selesai sholat jum'at tiap pekannya,
    seorang imam (masjid) dan anaknya (yg
    berumur 11 tahun) mempunyai jadwal
    membagikan buku – buku islam, diantaranya
    buku at-thoriq ilal jannah (jalan menuju surga).
    Mereka membagikannya di daerah mereka di
    pinggiran Kota Amsterdam.
    ***
    Namun tibalah suatu hari, ketika kota tersebut
    diguyuri hujan yang sangat lebat dengan suhu
    yang sangat dingin.
    Sang anakpun mempersiapkan dirinya dengan
    memakai beberapa lapis pakaian demi
    mengurangi rasa dingin. Setelah selesai
    mempersiapkan diri, ia berkata kepada ayahnya:
    "Wahai ayahku, aku telah siap" ayahnya
    menjawab : "Siap untuk apa?" , ia berkata:


    "Untuk membagikan buku (seperti biasanya)",
    sang ayahpun berucap: "Suhu sangat dingin
    diluar sana, belum lagi hujan lebat yang
    mengguyur", sang anak menimpali dengan
    jawaban yang menakjubkan : "akan tetapi,
    sungguh banyak orang yang berjalan menuju
    neraka diluar sana dibawah guyuran hujan".
    Sang ayah terhenyak dengan jawaban anaknya
    seraya berkata: "Namun ayah tidak akan keluar
    dengan cuaca seperti ini", akhirnya anak
    tersebut meminta izin untuk keluar sendiri.
    Sang ayah berpikir sejenak dan akhirnya
    memberikan izin. Iapun mengambil beberapa
    buku dari ayahnya untuk dibagikan, dan
    berkata: "terimakasih wahai ayahku".
    ***
    Dibawah guyuran hujan yang cukup deras,
    ditemani rasa dingin yang menggigit, anak itu
    membagikan buku kepada setiap orang yang
    ditemui. Tidak hanya itu, beberapa rumahpun ia
    hampiri demi tersebarnya buku tersebut.
    ***
    Dua jam berlalu, tersisalah 1 buku ditangannya.
    Namun sudah tidak ada orang yang lewat di
    lorong tersebut. Akhirnya ia memilih untuk
    menghampiri sebuah rumah disebrang jalan
    untuk menyerahkan buku terakhir tersebut.
    Sesampainya di depat rumah, iapun memencet
    bel, tapi tidak ada respon. Ia ulangi beberapa
    kali, hasilnya tetap sama. Ketika hendak
    beranjak seperti ada yang menahan langkahnya,
    dan ia coba sekali lagi ditambah ketukan tangan
    kecilnya. Sebenarnya ia juga tidak mengerti
    kenapa ia begitu penasaran dengan rumah
    tersebut.
    Pintupun terbuka perlahan, disertai munculnya
    sesosok nenek yang tampak sangat sedih.
    Nenek berkata: "ada yang bisa saya bantu
    nak?" Si anak berkata (dg mata yg berkilau dan
    senyuman yang menerangi dunia): "Saya minta
    maaf jika mengganggu, akan tetapi saya ingin
    menyampaikan bahwa Allah sangat mencintai
    dan memperhatikan nyonya. Kemudian saya
    ingin menghadiahkan buku ini kepada nyonya, di
    dalam nya dijelaskan tentang Allah Ta'ala,
    kewajiban seorang hamba, dan tips-tips
    memperoleh keridhoannya.
    ***
    Satu pekan berlalu, seperti biasa sang imam
    memberikan ceramah di masjid. Seusai
    ceramah ia mempersilahkan jama'ah untuk
    berkonsultasi. Terdengar sayup – sayup dr shaf
    perempuan seorang perempuan tua
    berkata:"Tidak ada seorangpun yang mengenal
    saya disini, dan belum ada yang mengunjungiku
    sebelumnya. Satu pekan yang lalu saya
    bukanlah seorang muslim, bahkan tidak pernah
    terbetik dalam pikiranku hal tersebut sedikitpun.
    Suamiku telah wafat dan dia meninggalkanku
    sebatang kara di bumi ini".
    Dan iapun memulai ceritanya bertemu anak itu.
    Ketika itu cuaca sangat dingin disertai hujan
    lebat, aku memutuskan untuk mengakhiri
    hidupku. Kesedihanku sangat mendalam, dan
    tidak ada seorangpun yang peduli padaku.
    Maka tidak ada alasan bagiku untuk hidup.
    Akupun naik ke atas kursi dan mengalungkan
    leherku dengan seutas tali yang sdh
    kutambatkan sebelumnya. Ketika hendak
    melompat, terdengar olehku suara bel. Aku
    terdiam sejenak dan berpikir :"paling sebentar
    lagi juga pergi".
    Namun suara bel dan ketukan pintu semakin
    kuat. Aku berkata dalam hati: "siapa gerangan
    yang sudi mengunjungiku,… tidak akan ada
    yang mengetuk pintu rumahku".
    Kulepaskan tali yang sdh siap membantuku
    mengakhiri nyawaku, dan bergegas ke pintu.
    ketika pintu kubuka, aku melihat sesosok anak
    kecil dengan pandangan dan senyuman yang
    belum pernah kulihat sebelumnya. Aku tidak
    mampu menggambarkan sosoknya kepada
    kalian.
    Perkataan lembutnya telah mengetuk hatiku
    yang mati hingga bangkit kembali. Ia berkata:
    "Nyonya, saya datang untuk menyampaikan
    bahwa Allah Ta'ala sangat menyayangi dan
    memperhatikan nyonya", lalu dia memberikan
    buku ini (buku jalan menuju surga) kepadaku.
    Malaikat kecil itu datang kepadaku secara tiba-
    tiba, dan menghilang dibalik guyuran hujan hari
    itu juga secara tiba2. Setelah menutup pintu
    aku langsung membaca buku dari malaikat
    kecilku itu sampai selesai. Seketika
    kusingkirkan tali dan kursi yang telah
    menungguku, karena aku tidak akan
    membutuhkannya lagi.
    Sekarang lihatlah aku, diriku sangat bahagia
    karena aku telah mengenal Tuhanku yang
    sesungguhnya. Akupun sengaja mendatangi
    kalian berdasarkan alamat yang tertera di buku
    tersebut untuk berterimakasih kepada kalian
    yang telah mengirimkan malaikat kecilku pada
    waktu yang tepat. Hingga aku terbebas dari
    kekalnya api neraka.
    ***
    Air mata semua orang mengalir tanpa
    terbendung, masjid bergemuruh dengan isak
    tangis dan pekikan takbir… Allahu akbar…
    ***
    Sang imam (ayah dari anak itu) beranjak
    menuju tempat dimana malaikat kecil itu duduk
    dan memeluknya erat, dan tangisnyapun pecah
    tak terbendung dihadapan para jamaah.
    Sungguh mengharukan, mungkin tidak ada
    seorang ayahpun yang tidak bangga terhadap
    anaknya seperti yang dirasakan imam tersebut.
    ***
    Judul asli : ﻗﺼﺔ ﺭﺍﺋﻌﺔ ﺟﺪﺍ ﻭﻣﻌﺒﺮﺓ ﻭﻣﺆﺛﺮﺓ
    Penerjemah : Shiddiq Al-Bonjowiy

    FORKAPMI