Medianya Generasi Muda | Dakwah Sekolah | Rohis

Forum Kerjasama Alumni Rohis Bandar Lampung

  • Breaking News

    Senin, 27 Januari 2014

    BINTANG DAN SEPOTONG MIMPI

    Pada angin aku hembuskan gelora asa
    Pada langit aku kirimkan pesan cinta
    Pada ibu aku kecup kenangan
    Padaku yang tak pernah lengang
    Selalu ada cahaya yang akan membuatku riang
    Begitulah ibuku bercerita

    ***
    ***
    ***

    Aku terlahir sebagai anak yatim. Ayahku meninggal sebelum aku sempat terlahir ke dunia. Ibu adalah orang pertama yang membuatku menangis dan Ibu jualah orang pertama yang membuatku tertawa. Ibu dan ibu, nama yang kukenal sebagai orang yang telah merawatku hingga saat ini. Kehidupanku mungkin tidak teramat menyenangkan bagimu. Karena aku hanya anak seorang buruh cuci. Meski begitu aku tetap bangga dan bahagia bersama ibuku. Dia teramat berharga dibandingkan apapun.


    Saat ini aku sedang duduk di kelas dua sekolah menengah pertama (SMP). SMP terbuka tepatnya. Sebuah sekolah gratis yang ada di desaku. Tak banyak yang dapat kulakukan untuk membantu ibuku. Sebelum berangkat ke sekolah aku luangkan waktu untuk berjualan tahu milik Pak Reso, juragan tahu terkenal di tempat aku dan ibuku tinggal. Setiap pagi aku pergi ke pasar tradisional untuk berjualan tahu. Sambil membaca koran dan sesekali beteriak, “ Tahu…tahu…!” aku siapkan asa semoga hari ini tahu yang kubawa cepat habis. Dengan  begitu aku dapat belajar sebelum sekolah. Di SMP terbuka, aku dan kawan-kawanku masuk siang. Karena itu aku dapat berjualan tahu di pagi hari.

    Bukannya aku malas belajar pada malam hari, tapi aku harus membantu ibu untuk mencuci pakaian-pakaian yang menjadi pekerjaan sebagai buruh cuci. Aku tak tega jika membiarkan ibuku melakukannya seorang diri. Tubuhnya mulai rapuh, kesehatannya-pun semakin buruk. Tapi aku tak berdaya. “Jika ibu tak bekerja, kamu mau makan apa?” sahut ibu waktu kuutarakan agar ibu berhenti bekerja. Pikiranku kala itu, biar aku saja yang bekerja dan sekolah aku tinggalkan saja. Tapi ibu ngotot agar aku tetap bersekolah bagaimanapun keadaannya.

    “Uang hasil jual tahumu simpan saja, itu untuk keperluan sekolahmu,” sambil pergi ke dapur ibu berkata padaku.

    Walau sekolahku gratis, tapi baju dan buku-buku tetap harus membeli kan? Memang sih, buku bisa pinjam di perpustakaan tapi aku juga ingin punya sendiri, jadi aku bisa membacanya kapan saja aku mau. Aku lebih menyukai buku-buku sains dan IPTEK gitu, nggak salah jika di sekolah nilai mata pelajaran IPA-ku selalu di atas 9. Tetapi terkadang aku suka iseng membeli buku-buku SMA padahal aku masih kelas 3 SMP sekarang. Pikir-pikir persiapan, siapa tahu… anganku mulai berlarian kemana-kemana hingga teriakan ibu mengagetkanku “Bintang…bintang…!”

    “Iya bu,” buru-buru kusahut panggilan ibu dan berlari ke arahnya.


    Jika melihat para ilmuan yang ada di televisi milik tetanggaku, aku jadi berfikir betapa mulianya pekerjaan mereka, apalagi jika mereka yakin akan adanya Tuhan. Kata ibuku ilmu yang bermanfaat itu akan tetap bernilai pahala walaupun orang yang menyebarkannya telah meninggal. Aku ingin jadi ilmuan, tapi sepertinya khayalanku terlalu tinggi untuk saat ini. Sekolah saja aku mesti jualan tahu,  h’eeh.. tapi itulah aku. Seseorang yang selalu punya mimpi, berkat ibuku yang selalu memupuk mimpi-mimpiku hingga angan tak mampu menampungnya. Ibu memang sumber motivasiku.

    Pada suatu hari ibu pernah berkata padaku “Jadilah bintang yang selalu terang walau kegelapan meliputi, jadilah bintang yang menyinari setiap langkah-langkah buta manusia, jadilah bintang yang menjadi penunjuk arah bagi hamba-hamba yang sedang tersesat, jadilah bintang yang selalu punya mimpi untuk diwujudkan. Bintang walau kecil tetap bermakna di hati yang penuh rasa, seperti rasa cintaku padamu yang tak berbatas”.

    Meskipun hanya seorang buruh cuci, ibuku sangat antipati terhadap kebodohan. Ibuku yang sangat keras memperjuangkan impiannya, yaitu aku. Setiap hari ia habiskan waktunya dengan mencuci, menyetrika, dan berkeliling mengantarkan pakaian. Setiap hari ia gadaikan asa demi asa untukku. Anak semata wayangnya yang sekarang masih belum cukup mengerti arti sebuah mimpi. Aku hanya ingin membuat ibu bahagia. Tapi bukan bahagia menjadi buruh cuci seperti ini. Mimpinya adalah membuatku menjadi bintang yang sebenarnya. Bintang walau kecil, tapi sinarnya dinikmati banyak manusia. Ya, ibuku ingin aku menjadi orang yang banyak menebarkan manfaat bagi makhluk hidup dan alam semesta ini. Sangat cocok dengan mimpiku menjadi seorang ilmuwan. Hatiku tersenyum geli, walau aku belum pahami apa arti sebuah mimpi.

    Bagi pelajar SMP sekaligus penjual tahu sepertiku, bermimpi adalah hal yang menyenangkan sekaligus menyakitkan. Pasalnya, aku tak tahu bagaimana cara mewujudkannya. Tapi terkadang juga aku tak mau tahu, aku yakin semua hal pasti akan menemukan celah. Celah untuk maju atau mundur.

    Seperti ketika aku dan kawan-kawanku saat akan menyeberang sebuah jalan yang ramai kendaraan. Terus berlalu lalang seakan tak memberi kesempatan kami untuk menyeberang.

    “Di saat seperti ini kita butuh keyakinan dan kesabaran menunggu waktu, pasti akan ada celah untuk kita lewati. Seperti hidup, selalu ada masalah dan hambatan. Ketika kita bisa sabar dan tetap yakin kepada yang memberi hidup, beruntunglah, saat kesuksesan itu akan datang.”  Laki-laki separuh baya di dekatku yang akan menyeberang juga bergumam entah dengan siapa, tanpa sengaja aku mendengarnya.

    Tidak lama kemudian celah sudah datang, dan kami menyeberang.

    Seperti banyaknya bintang yang sebenarnya, terkadang enggan menampakkan sinarnya. Pada langit gelap yang muram. Cahaya kecil tak selalu hadir berjejer dengan teman sesama bintang. Dan aku, tak selamanya bersinar sepanjang hari. Kini, aku dihadapkan dengan celah yang terbuka lebar. Tetapi aku bingung tentukan arah, maju atau mundur saja. Sepotong mimpiku telah pergi. Tidak mungkin untukku kembalikan ibu. Baru saja aku lulus dengan hasil yang memuaskan. Aku mendapat nilai kelulusan tertinggi. Dan aku masih ingat senyum kebanggaan di bibirnya. Saat itu aku merasa mimpi untuk membuatnya bahagia akan segera terwujud. Bukan sebagai buruh cuci. Tapi sebagai seorang ibu yang memiliki banyak asa pada anaknya. Seorang ibu yang memiliki bintang yang selalu akan bersinar. Hingga bulir-bulir air itu mengalir melewati pipinya yang mulai keriput. Ibuku….

    “Jadilah bintang yang selalu terang walau kegelapan meliputi, jadilah bintang yang menyinari setiap langkah-langkah buta manusia, jadilah bintang yang menjadi penunjuk arah bagi hamba-hamba yang sedang tersesat, jadilah bintang yang selalu punya mimpi untuk diwujudkan. Bintang walau kecil tetap bermakna di hati yang penuh rasa, seperti rasa cintaku padamu yang tak berbatas”.

    Tiba-tiba aku seperti mendengar suara ibu. Celah masih terbuka, dan aku putuskan untuk tetap maju walau tanpa ibu lagi. Mimpi dan asa ibu tetap bersamaku. Aku akan selalu menjaga mimpi ini. Mimpi aku dan ibu.

    Sekarang, aku mulai pahami apa itu mimpi. Mimpi adalah asa, harapan yang harus diwujudkan. Akan kuperjuangkan asa-asa yang sempat tergadaikan. Meski hati ini hancur karena harus kehilangan seseorang yang selama ini menjadi inspirasiku. Ibuku meninggal karena penyakit paru-paru yang selama ini menggerogoti tubuhnya. “Sepotong mimpi ini akan kuwujudkan Bu.” batinku menyemangati langkahku.

    Walau mimpiku telah terpotong dengan perginya ibu, dan aku belum sempat membuatnya bahagia dengan tidak menjadi buruh cuci lagi. Saat itu aku melihat tubuhnya terkulai kaku di antara tumpukkan cucian, tubuhnya basah kuyup, kedinginan. Kebekuan menyelimutinya, saat aku tidak ada di rumah. Ketika itu, tepatnya pada pagi hari, seperti biasa aku pergi ke pasar untuk berjualan tahu. Dan Ibu melakukan tugas seperti hari-hari sebelumnya, yaitu mencuci. Tak ada firasat apapun karena memang hal itu terus kami lakukan setiap hari, dan tak ada yang beda.

    Dan saat kupulang ke rumah Ibu sudah tidak bergerak lagi. Aku mencoba meraba-raba nadinya, tak ada gerakan apapun. Aku dekatkan telingaku di dadanya, tak ada suara. Aku sentuh hidungnya, tak ada udara hangat yang keluar. Aku bingung, aku berteriak hingga suaraku tak terdengar lagi. Aku tersungkur, terisak, tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya melihat wajahnya yang pucat, garis-garis di pipinya dengan rona lelah. Aku tak tega melihatnya. Saat itu aku sangat tidak berdaya. Hanya butir-butir cinta dan asaku yang terus mengalir entah sampai kapan.

    Walau  hatiku telah hancur dan tak mampu menyatukannya kembali menjadi hati yang utuh, aku tetap harus berjuang. Untuk tidak menjadi orang yang biasa-biasa saja. Meski langkah-langkah ini digelayuti keraguan. Aku terus mencoba yakinkan tapak-tapak kecil untuk memberanikan diri menjadi bintang.

    Dengan atau tanpa rasa sadar, kini aku benar-benar sendiri. Walau aku masih yakin akan ada celah untuk bintang. Tapi kini, aku benar-benar bingung. Akan kemana aku tanpa ibu? tanyaku pada hati. Orang yang selama ini mengajariku tentang hidup. Orang yang selama ini menunjukkan setiap langkah-langkahku kini telah tiada. Aku mulai terdiam. Merenungi nasibku saat ini. Tanpa ayah, tanpa ibu, tanpa sanak saudara dan tanpa siapapun. “Aku memang sendiri ‘ gumamku. Tapi hatiku tidak, ternyata aku masih punya Tuhan. Yang kata ibu, DIA akan selalu menolong dan membantu hamba-Nya yang memohon pada-Nya dan menaati-Nya.

    Semilir angin segar mulai merasuki pori-pori tubuhku yang masih terlentang di atas dipan berukuran kecil. Sambil memeluk baju ibu yang masih lekat dengan aroma khasnya. Kokokan ayam saling bersahutan. Aku terbangun dengan tubuh masih lemah, langkah layu dan masih dengan mimpi yang sama.

    ***

    Setelah dua bulan aku hidup sendiri dengan belas kasihan tetangga-tetanggaku. Aku memberanikan diri untuk mengadu nasib di kota. Kata Pak Soleh yang kerja di kota, ada teman majikannya yang sedang mencari orang untuk menjaga warung bakso. Pak Soleh menawarkan pekerjaan itu padaku, tanpa pikir panjang aku pun mengiyakannya.

    Setelah kurang lebih satu bulan aku bekerja di sana, aku masih menyempatkan diri untuk membaca. Di sela-sela kesibukan melayani pelanggan baksoku. Buku-buku SMA yang pernah kubeli dulu selalu kubawa. Karena memang seharusnya aku saat ini sekolah. Tapi tak apalah walau harus belajar dengan keadaan seperti ini. Sesekali Pak Ramdan pemilik warung bakso tempat ku bekerja memergokiku sedang membaca. “Baca apa tang?” tanyanya kala itu. “Aku sedang belajar Pak” sahutku sekenanya. Entah karena kasihan atau empati padaku, Pak Ramdan menawariku untuk melanjutkan sekolah SMA. Aku sangat bahagia dan terharu. Asaku tumbuh kembali, sepotong mimpiku semakin mungkin untuk diwujudkan. “Terimakasih Ya Rabb… Engkau mendengar setiap rintihan doa malamku. Dan kini Engkau membantuku membuka celah yang hampir tertutup.” Syukurku pada Tuhanku yang selama ini selalu menyertaiku.

    ***

    Setiap hari adalah hari yang baru, hari yang berbeda dengan kemarin. Setiap hari adalah kenyataan yang harus kita syukuri. Aku lanjutkan perjalanan mewujudkan asa dalam episode ini. Aku teringat senyum ibu dulu. Saat kesuksesan itu datang. Dan kini, aku sedang melihat senyum itu kembali, d ikeluasan langit-Nya.

    “Sebentar lagi aku akan menjadi bintang seperti harapan ibu dulu…”

    (Shinta Haniya)

    Portal Berita FKAR

    FORKAPMI

    Dokter FKAR