Medianya Generasi Muda | Dakwah Sekolah | Rohis

Forum Kerjasama Alumni Rohis Bandar Lampung

  • Featured Posts

    Senin, 27 Januari 2014

    Perubahan yang Mengokohkan

    Sesosok pemuda bertubuh kekar dan berkulit hitam keluar dari rumahnya dengan wajah yang menunjukkan kebencian dan kesombongan. Pemuda tersebut sangat benci sekali dengan agama yang dibawa oleh Muhammad SAW. Keluarnya sang pemuda ini dari rumahnya dengan maksud untuk membunuh orang yang paling dibencinya, tidak lain adalah Muhammad SAW. Dengan sebilah pedang di tangan kanannya ia pun melangkahkan kakinya menuju rumah Muhammad SAW. Kebenciannya yang teramat sangat membuat langkahnya semakin cepat dan berjalan dengan gusar
    menuju kediaman Muhammad SAW.

    Namun di tengah perjalanan dia berpapasan dengan seorang laki-laki, lalu laki-laki itu bertanya kepada sang pemuda,

    “Mau kemana kamu wahai pemuda?”

    “Aku akan membunuh Muhammad.” jawabnya.

    “Apa yang menjamin dirimu wahai Pemuda dari pembalasan bani hasyim dan bani zhuhrah jika kamu membunuh Muhammad?”

    Pemuda tersebut berkata “Menurut pengamatanku  kamu telah keluar dari agama yang telah kamu peluk selama ini”
    “Bagaimana jika aku memberitahukan kepadamu sesuatu yang akan membuatmu lebih tercengang ya Pemuda? Sesungguhnya saudarimu dan iparmu telah masuk ke dalam Islam dan telah meninggalkan agama yang selama ini kamu peluk.” kata laki-laki tersebut.

    Kemudian dengan terburu-buru pemuda itu segera mengubah haluannya menuju rumah adik perempuan dan iparnya. Saat itu mereka berdua, adik dan iparnya sedang mendengarkan bacaan Al-Qur’an surat Thaha yang sedang dibacakan oleh Khabbab bin Al-Art. Ketika mereka tahu bahwa kakaknya datang ke rumah mereka, dengan cepat Khabbab menyingkir ke belakang ruangan dan segera Fathimah menyembunyikan Shahifah Al-Qur’an. Namun ketika Si Pemuda berada di luar tadi ia sempat mendengar bacaan Al-Qur’an yang dibacakan oleh Khabbab.

    “Suara bisik-bisik apa yang kudengar dari kalian tadi?” tanya sang pemuda ketika memasuki rumah.

    “Kami tadi hanya sekedar mengobrol saja.” jawab keduanya.

    “Aku dengar kalian berdua telah masuk ke dalam Islam?” kata pemuda itu kembali.

    “Wahai Kakakku, apa pendapatmu jika kebenaran ada di dalam agama selain agamamu?”

    Seketika itu pemuda tersebut langsung melompat ke arah adik iparnya dan menginjaknya keras-keras, lalu adiknya segera mendekat untuk menolong dan mengangkat badan suaminya. Namun, ia memukul Fathimah hingga wajahnya terluka, berdarah.

    Lalu Fathimah berkata “Wahai kakakku, jika kebenaran itu berada pada agama selainmu maka bersaksilah bahwa tiada Tuhan  selain Allah dan bersaksilah bahwa Muhammad adalah Rasul Allah!”

    Ia pun merasa malu terhadap perbuatannya karena telah membuat wajah adiknya berdarah dan ia pun mulai merasa putus asa.

    “Berikan kitab yang tadi kalian berdua baca.” Kata pemuda tersebut.

    “Al-Qur’an harus dipegang oleh orang-orang yang suci sedangkan engkau adalah orang yang najis. Bangun dan mandilah jika engkau mau.” Jawab adiknya.

    Kemudian dia segera mandi dan setelah itu dia langsung membaca isinya yaitu Al-Qur’an surat Thaha dari awal hingga sampai pada ayat yang ke-14 yang artinya :

    “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah tidak ada Ilah selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah Shalat untuk mengingat-Ku.” (Q.S. Thaha : 14)

    “Alangkah indah dan mulianya kitab ini, tunjukkan kepadaku di mana Muhammad sekarang berada.” kata sang pemuda.

    Mendengar perkataan ini kemudian Khabbab muncul dan memberitahu keberadaan Rasulullah. Lalu ia memungut pedangnya kemudian ia pergi hingga sampai ke tempat yang dia tuju. Sesampainya ia menggedor pintu untuk segera bertemu dengan Rasulullah.

    Ketika bertemu dengan Rasulullah ia segera mengucapkan “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya engkau adalah Rasul Allah.”

    Akhirnya pemuda tersebut saat itu juga masuk Islam dan meninggalkan agamanya terdahulu. Ketika itu, seluruh orang yang ada di dalam rumah serentak bertakbir karena ke-Islaman pemuda itu.

    Mungkin ABG’ers sekalian sudah kenal dengan pemuda yang diceritakan di atas. Ya benar sekali, beliau adalah Umar bin Al-Khaththab ra. Umar adalah seorang yang dikenal sebagai orang yang menjaga kehormatan dirinya dan memiliki watak keras dan kasar. Karena kejahiliyahan yang ia pegang, Ia telah membunuh anak perempuannya yang dikuburkan hidup-hidup ke dalam tanah dengan tangannya sendiri. Setiap kali dia berpapasan dengan orang-orang muslim, pasti dia menimpakan berbagai macam siksaan. Yang pasti, di dalam hatinya bergejolak berbagai perasaan yang sebenarnya saling bertentangan. Penghormatannya terhadap tradisi-tradisi leluhur nenek moyang, kebebasan meminum minuman keras hingga mabuk dan bercanda ria, bercampur baur dengan keseganannya terhadap ketabahan dan kesabaran orang-orang muslim dalam menghadapi cobaan untuk mempertahankan akidahnya. Keadaan ini ditambah lagi dengan keragu-raguan yang menari-nari di dalam benaknya dan dalam benak siapapun yang berakal, bahwa apa yang bawa oleh Islam ternyata lebih baik dan agung daripada yang lain.

    Di tengah udara yang pengap karena dipenuhi awan kesewenang-wenangan dan kezhaliman, ternyata muncul berkas cahaya lain yang lebih terang dari cahaya yang pertama  yaitu ke-Islaman Umar bin Al-Khaththab. Dia masuk islam pada bulan Dzul-Hijjah pada tahun keenam dari nubuwah, tepatnya tiga hari setelah ke-Islaman Hamzah bin Abdul Muththalib. Sebelum itu Rasulullah telah berdo’a  “Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai, dengan Umar bin Khatththab atau dengan Abu Jahal bin Hisyam.”

    Keislaman Umar ra. ini merupakan sebuah kemenangan besar bagi umat Islam saat itu. Sesosok orang yang patut diteladani. Kepribadian beliau sebagai salah satu sahabat nabi yang berani untuk melakukan perubahan total dari kejahiliyahan menuju cahaya Islam yang menyejukkan. Ya, perubahan! Perubahan di mana beliau mau bergerak dari keraguan menuju keyakinan yang mempertemukannya dengan kesejatian dan makna kehidupan. (RM)

    FORKAPMI