Medianya Generasi Muda | Dakwah Sekolah | Rohis

Forum Kerjasama Alumni Rohis Bandar Lampung

  • Featured Posts

    Friday, October 23, 2020

    DEBU YANG MENGIKUTI KEMANAPUN ANGIN PERGI


    DEBU YANG MENGIKUTI KEMANAPUN ANGIN PERGI

    ***
            TERUNTUK, Sang pemilik seluruh Semesta.
            Debu ingin sebentar bercurhat ria dengan-Mu.

            Dikala panas aku menjadi yang paling dibenci, dikala berangin aku menjadi yang
    paling dimaki, dan dikala hujan aku menjadi yang tiada berarti. Aku selalu dijauhi.
     

            Namaku Debu, dan aku selalu mengikuti kemanapun angin pergi.
             

            Aku seorang pemerhati, sudah lama memandangi Dunia yang penuh teknologi. Aku
    selalu merasai, dimana waktu terus bergulir dan merubah yang sebelumnya asri oleh hijauan
    rohani, menjadi penuh maksiat dan insan-insan yang menghancurkan diri. Aku bisa melihat
    apinya, ia berpendar gagah mengincar semua orang, kadang melesat-kadang perlahan.
         

            Aku tersesat disini, bisa masuk namun sulit untuk keluar.
         

            Banyak hal memanjakan yang membungkus Bumi baru, menimbulkan lengah yang
    berujung pada hilangnya fitrah. Ngeri sekali menyaksikannya. Ularpun bahkan berdesis,
    memilih pergi dan menyerah pada Bumi.
     

            Wahai Allah, atas nama semua debu, izinkanlah kami mendapat keselamatan dari-Mu.
    Manusia adalah debu, yang terus mengikuti kemanapun angin berhembus. Sementara
    zaman adalah angin, yang berhembus kemanapun ia mau, berbelok kesana-kemari, naik
    keatas, lalu melesat turun dan menjerumuskan semua manusia. Bintang sampai meredupkan
    cahayanya, laut telah berulangkali meminta untuk menghabiskan Dunia.
     

            Tolonglah kami semua, wahai Allah!
     

            Bersinarlah, lalu berikan kami setitik dari sinar-Mu yang cemerlang itu.
             

            Turunkanlah hujan, biar kami membasuh hati kami yang kotor ini.


            Gempa maksiat meretakkan iman, gemuruh guntur cintadunia meredupkan takwa. Kami benar-benar telah menyimpang. Media sosial menyesatkan kami, hobi dan kemampuan
    membuat kami lalai, pekerjaan membuat kami melupakan tentang segalanya.
     

            Gelap mata, gelap hati.


            Kami memang manusia yang bodoh, zaman mudah sekali menarik kami menuju kesesatan.

            Wahai Allah, dengarkanlah doa kami!


            Hadirlah kembali dalam hati kami, benahilah semua yang ada di sana.


            Penuhi undangan sepertiga malam kami, dengarlah semua munajat kami.


            Sekalipun malam tak akan pernah lagi bertukar menjadi siang, sekalipun kotoran itu
    tak akan pernah bisa lagi luruh, sekalipun debu-debu itu akan terus menempel di jiwa kami,
    tapi kami tetap akan menunggu jawaban dari-Mu Wahai Allah. Kami mengharapkan ridho
    dari-Mu. Kami mengharapkan kasih-Mu. Kami membutuhkan cahaya-Mu.


            Purnama dan mentari tak lagi cukup untuk menaungi seluruh Bumi, karena energi
    gelap kini merajai, menutup semua akses masuk para cahaya lembut, membiarkan malam tak
    memiliki usapan dan siang tak memiliki sorotan. Gelap menyelimuti, hati kami terkunci oleh
    gembok, yang kuncinya dibuang begitu saja ke dasar lautan kemaksiatan.
             

           Hanya kepada-Mu diri yang lemah dan bodoh ini mengharap.


           Lepaskanlah kami dari belenggu maksiat ini, wahai Allah.
     

           Kami tak kuasa lagi menyaksikan dosa kami bertambah.
     

           Kami tak sanggup lagi menahan beban ini.
     

           Engkau yang Maha Rahman, Yang Maha Rahim. Yang maha mengasihi lagi maha
    mengampuni. Engkau pemilik kunci antar dunia, Yang menentukan pintu mana yang akan
    menyambut kami di akhir kelak. Engkau pemegang seluruh galaksi, membiarkannya menari
    bebas dan saling kejar satu-sama lain. Engkau sang penentu takdir, Yang menunjuk siapa
    yang gugur dalam maksiat dan siapa yang pergi dalam takwa.
     

    Kami semua benar-benar membutuhkanmu, wahai Allah!
    Kami telah hilang arah.
    Kami terlambat menyadari.
    Kami berdiri diantara gelap.
    Kami mencari-cari cahaya.
    Ulurkanlah tangan-Mu, selamatkanlah kami dari sepotong kehidupan tak berarti.
    Bawa kami menuju sebuah cahaya.
    Jadikanlah kami sebagai hamba-Mu yang shalih.

    Ketika cahaya-Mu mulai berpendar, maka api-api itupun akan padam. Kami akan
    kembali tersenyum lega.

    Jadikanlah kami sesuatu yang berarti.
    Yang memiliki harga.
    Yang memiliki nama.
    Mimpi kami melihatmu, bertemu, lalu dicap sebagai insan yang beriman. Cita-cita
    kami berkumpul denganmu di Firdaus, bersama dengan ratusan ribu umat muslim lainnya,
    bersatu membuat lingkaran yang memancarkan cahaya lembut.
     

    Kami merindukan kehadiran-Mu dihati kami yang lenggang ini.

    Hadirlah.
    Hadirlah.
    Hanya engkau yang kami tunggu.
    Kami tak peduli soal cinta, apalagi masalah Dunia yang lain.
    Kami hanya peduli untuk menunggumu.
    Menunggu cahaya-Mu, dan menjadi sesosok manusia yang beriman.
    Bukan lagi debu yang mengikuti kemanapun angin berhembus.

    ***

    Notes : afwan kalau kurang 

     

    Raisya Ramandha Putri - SMPIT Daarul 'Ilmi Bandarlampung

    6 comments:

    FORKAPMI