Medianya Generasi Muda | Dakwah Sekolah | Rohis

Forum Kerjasama Alumni Rohis Bandar Lampung

  • Featured Posts

    Saturday, October 24, 2020

    Elegi dari Hamba yang Terbawa Arus

     


    Elegi dari Hamba yang Terbawa Arus

     

    Ya Allah, sungguh aku malu karena dalam waktu yang panjang aku menatap layar gawai, tak jua mampu jemari ini mengetik surat cinta untuk-Mu. Apakah begitu muskil bagi diriku menuangkannya dalam secarik kata-kata? Namun, baiklah. Entah ini berupa kesah yang panjang atau elegi atas iman seorang pendosa yang telah lama menyeruak hilang … biar jemariku menyingkap rangkaian klausa yang menggenang. Izinkan memoar hamba melanjutkan alinea.


    Sejak belajar mengeja huruf hijaiah hingga sekitar dua setengah tahun yang lalu, aku selalu berada di lingkungan pendidikan yang homogen. Baik itu pengajar maupun teman. Tebersit dalam pikiran untuk beralih ke lingkungan heterogen karena aku hendak mengajak teman-teman baruku kepada kebaikan. Meski sebenarnya hati masih dipenuhi oleh keragu-raguan, kubulatkan tekad untuk menjelma sebagai siswi putih abu-abu di sekolah yang kutuju.


    Pertama kali menjejaki lingkungan baru, aku masih percaya diri dengan iman yang kupegang teguh. Tantangannya, sejak kecil aku tidak mudah beradaptasi. Apalagi saat itu berada di lingkungan yang jauh berbeda. Berat … sekali rasanya. Maksiat yang dulu sangat jarang aku jumpai, kini dengan mudah terlihat di mana-mana. Sungguh aneh di penglihatan pada awalnya, tetapi nyata. Namun, bukankah aku sudah tahu risiko dari keputusan yang aku pilih?


    Mulanya aku sangat emosional dan berusaha memberikan nasihat, tetapi tanpa sadar kata-kata yang aku lontarkan malah menoreh luka. Aku bukanlah seorang alim. Niatku untuk mengajak kepada kebaikan, nasihat-nasihat itu … justru menjadi duri. Inginku menangis setiap saat karena menyesal telah menyakiti orang lain tanpa aku sadari. Sungguh aku merasa malu, ya Rabb. Betapa pongah diriku merasa suci, padahal begitu kotor dan dipenuhi cela. Sejak saat itu niat awalku sempurna pudar. Aku menyadari bahwa setiap orang pernah berbuat kesalahan termasuk akudan  belajar untuk lebih menghargai orang lain. Daripada salah langkah, setidaknya aku berusaha untuk tidak mengikuti perbuatan tersebut. Ya, pikirku saat itu.


    Seiring waktu, aku mulai terbiasa berada di lingkungan heterogen. Pun tak terasa sekarang sudah berada di jenjang terakhir. Perlahan, selama proses beradaptasi yang terus aku lalui, sadar maupun tidak, aku mulai berubah. Bukan karena paksaan atau dorongan siapa pun, tetapi arus dunia membuatku terlena.


    Musik yang dahulu begitu asing di telingatak sempat mengenai hati dengan cepat ia berlalukini rutin bersemayam di telinga dan juga lisanku daripada ayat-ayat Al-Qur’an. Ketika dadaku begitu sesak sehabis menangis, kudengar lagu-lagu untuk membantu menenangkan diri. Tatkala aku mengerjakan tugas dan merasa bosan, kuputar lagu-lagu untuk memacu timbul semangat produktivitasku. Selama 24 jam alias satu hari, sungguh mustahil kulalui tanpa mendengarkan musik. Pendengaranku jua semakin tajam ketika mendengar gunjingan dan gosiprasa ingin tahu meninggi meski tak ada faedah sama sekali. Telingaku menuli saat modin masjid melaungkan azan di surau, hanyut dengan segala rutinitas tanpa makna.


    Kata-kata kasar, makian, isi dari kebun binatang, cagar alam, dan suaka margasatwa dulu terdengar begitu pedih. Bersamaan dengan berjalannya waktu, aku mulai berpikir ungkapan kasar sebagai hal yang lazim. Mulanya menentang keras, perlahan pendengaran terbiasa, hingga akhirnya dalam hati maupun lisan kadang kala aku ucapkan. Ketika merasa kecewa pada diri sendiri, kesal kepada orang lain, sedih, terpuruk, bahkan saat-saat bahagia yang seharusnya dipenuhi ucapan syukur kepada-Mu, aku malah berucap … tak mungkin aku tulis di sini, di dalam surat untuk-Mu, bukan? Namun, meski hanya tertitah sanubari, menyendiri nan sepi, atau di lautan manusia pun … Kau selalu mendengarnya. Sepatah kata … ah tidak, satu silabel … bahkan … satu fona pun tak mampu aku sembunyikan dari-Mu. 


    Tak hanya hal-hal di atas saja. Pelbagai ihwal yang pada awalnya kupandang sebelah mata, mengernyit dahi ini tatkala mengetahuinya, batin mencibir saat mendengarnya, kini berbalik menyerang diriku sendiri. Ya. Justru hal-hal yang dulu begitu aku hindari atas apa-apa yang aku yakini, sekarang aku lakukan tanpa ada beban di hati. Hatiku telanjur kebas, tetapi tak jua aku peduli.


    Beranjak dewasa, hidupku terasa makin hampa. Kosong. Penuh kegelisahan. Kesah. Resah. Namun, jangankan memperbanyak ibadah, memperbaikinya saja masih menunda-nunda. Orientasi kian merujuk pada dunia dengan segala kegemilangan yang menipu. Padahal, dalam sanubari aku tahu jelastidak pernah sekali pun lupa—bahwa nikmat dunia hanya tetesan air yang menempel pada jari-jari setelah dicelupkan di samudra.        

      

    Ya Rabbi, selama ini aku teramat fokus membandingkan diri dengan orang lain, mengutuk diri tatkala datang musibah, berlebihan kecewa atas kegagalan demi kegagalan, serta bergeming dalam kekurangan. Terus-terusan bertanya: Mengapa aku? Ya Allah, hamba sering kali bersuuzan kepada Engkau. Menggumam ketidakadilan tentang hidup, tetapi rasa bersyukur pun kurang dari cukup. Merutuki takdir, tetapi selalu abai terhadap hikmah yang hadir. Berbuat dosa hingga menggunung, tetapi pahala tak kunjung ditimbun. Betapa aku acuh tak acuh terhadap nikmat-Mu yang tak dapat dihitung oleh rumus sains apa pun.


    Maafkan hamba-Mu, ya Rahman. Diriku tak lain hanyalah seorang pendosa yang mengharapkan jannah, meski mahabbah terkadang patah-patah. Bagaimana pula mahabbahku dapat terwujud apabila secara bersamaan maksiat lebih sering daripada sujud?


    Ya Rabbi, sungguh alineaku dipenuhi sesal dengan napas masih tersengal-sengal. Izinkan hamba memperoleh rida-Mu, ya Rahman. Mohon ampunan atas segala dosa yang telah hamba lakukan. Melaungkan nikmat dari-Mu tak mungkin putus-putusnya bila kulanjutkan surat ini, maka biarlah sajak sejenak mengakhiri.

     

    Diri ini bagai penumpang dalam perahu

    Aku yang mengendalikannya

    Berpegang teguh dan mendayung lurus

    Atau terlena hingga terbawa arus

    Aku pula yang menentukannya

    Ketika mahabbah merekah di dada

    Angin berbaik hati melancarkan perjalanan

    Ketika maksiat menggiurkan sanubari

    Ombak pun mengumbang-ambingkan ke arah yang dicari

    Robbuna, aku berharap mahabbahku tak akan mengabu

    Meski perahuku tersendat-sendat menuju jannah-Mu

    Aku tak ingin berkalang tanah tatkala disibukkan oleh fana

     Calon Jenazah


    Karya: Siti Atika Azzahrah dari SMAN 9 Bandar Lampung

    No comments:

    Post a Comment

    FORKAPMI