Medianya Generasi Muda | Dakwah Sekolah | Rohis

Forum Kerjasama Alumni Rohis Bandar Lampung

  • Featured Posts

    Wednesday, October 21, 2020

    SALAHKU



    Aku memulai mengisi lembar putih dengan hitam, bersama pikiran yang berkelana menjejaki beberapa kejadian lalu. Kebahagiaan luar biasa yang terkadang membuat akal lupa tentang siapa pemberi kebahagiaan. Skenario yang tak sesuai dengan kenyataan, membuat diri enggan mengerti dengan keadaan, menganggap sesuatu yang bertolak belakang dengan keinginan sebagai bentuk ketidakadilan. Setiap hari, rasanya aku seperti menimbun butir demi butir kerikil, menjadikannya tinggi dengan tumpukan dosa.

    Ketika ribuan ajakan baik menghampiri mata dan telinga, aku terlalu bodoh hingga memilih untuk mengeraskan hati, membiarkannya masuk tanpa mau repot untuk kurenungkan lagi. Aku selalu jadi keras kepala, merasa hebat, menampik dan melupakan fakta bahwa semua yang kujalani selama bukan berarti apa-apa. Engkau selalu punya jutaan jalan untuk menegurku, dan aku dengan segala kesombonganku selalu punya cara untuk kembali menghiraukannya.

                Terlalu terlena dan terbiasa dengan fananya dunia. Hingga perlakuan, perkataan, pun berpikir buruk menjadi kebiasaan yang selalu kuabaikan akibatnya. Ada saat dimana aku hanya mengingat dosa begitu adzan mulai berkumandang. Dan saat itupun, lagi-lagi, aku memilih mengabaikan pangilanMu, kembali bergelut bersama aktivitas tak berguna yang nyatanya hampir setiap hari kuulang dan kulakukan. Lalu di malam hari ketika aku berbaring sendirian di kamar gelap, dengan mata yang masih sepenuhnya terbuka bersama pikiran yang memutar imaji tentang mengerikannya hukumanMu, aku ketakutan, menangis, dan melirih meminta ampunan.

    Ya Allah, aku bodoh, bukan?

                Ada pula saat dimana aku terus menyalahkan diri, mengutuk dan berakhir pasrah. “Seharusnya aku jangan begini. Seharusnya aku nggak membuatnya sakit hati. Seharusnya aku lebih berhati-hati lagi.” Pada saat itu, yang bisa kulakukan sebagai manusia pengecut hanyalah menyesal. Kemudian mulai bertekad dalam hati untuk memperbaiki diri, berusaha bertindak lebih hati-hati, mengingat segala balasan yang pasti kuterima di akhir sebagai bayaran dari segala yang telah aku lakukan. Namun sejatinya, memikul tiga karung berisi beban menggunakan dua bahu saja adalah hal yang sulit untuk seimbang dilakukan. Bahkan hari belum sempat berganti, tapi segala penyesalan dan sumpah yang kuucapkan begitu mudahnya untuk menguap dan hilang. Kemana perginya tangis sesal yang kemarin kuraungkan? Mengapa niatan selalu enggan berdiri kokoh tanpa bergoyang dari tempatnya?

                Ketika malam, aku selalu berjanji pada diriku sendiri, “besok pagi, ayo jadi seseorang yang lebih baik dari kemarin.” Aku menyusun beberapa rencana yang mungkin bisa kugunakan untuk memulai. Hal-hal kecil yang kulakukan bersama keluarga, bersikap lebih hangat meski harus menelan canggung. Aku terus berusaha membiasakan diri seiring sisa hari yang masih bisa kujalani. Mau sampai kapan aku dibuat nyaman oleh waktu?

                Perlahan, aku mencoba membuka hati. Ayat yang selama ini hanya kulantunkan lewat bibir, mulai kupahami isi apa yang Engkau sampaikan disana. Merenungkannya, dan mulai berkaca diri.

                Ya Allah, tak ada satupun kehidupan yang luput dari pandanganMu. Selama tujuh belas tahun hidupku, segala yang kulakukan; baik hal buruk kecil yang selalu kuanggap sepele akibatnya, hingga kekhilafan besar yang jelas kuketahui salahnya, pun secuil perbuatan baik yang kulakukan, selalu berada di bawah pengawasanMu. Aku perlahan menyadari bagaimana setiap peristiwa besar yang terjadi di dunia ini adalah bagian dari skenarioMu. Kami disini hanyalah peran yang Engkau mainkan, dengan kebebasan kami untuk memilih watak serta pikiran.

                Ya Allah, tak ada anugerah yang lebih besar untukku selain Engkau yang mengizinkanku untuk menjadi seseorang dengan jalan pikiran yang berbeda, membuka akal akan kenyataan; bahwa tak ada Tuhan selain Engkau, tak ada pula penguasa yang lebih tinggi dari Engkau. Terima kasih telah membawaku sadar. AnugerahMu ini, akan berusaha kujaga sebaik mungkin, akan kuistiqomahkan segala ibadah dan perbuatan baik yang kulakukan. Rugi yang besar bagiku kalau sampai aku membuat Engkau kecewa.


    Karya: Adelia Rizky dari SMAN 16 Bandar Lampung

    40 comments:

    1. Semangat ����,semogaa menang

      ReplyDelete
    2. Semangat semangat! Ini keren ��

      ReplyDelete
    3. WAH HEBAT!!!������

      ReplyDelete
    4. “besok pagi, ayo jadi seseorang yang lebih baik dari kemarin.” kata kata yang selalu rajin terucap, dan semoga benar benar dapat terlaksana ya:) semangat untuk aku untuk kamu dan untuk kita semuanya yang masih sama sama dalam proses perbaikin diri🧡

      ReplyDelete
    5. tertampar banget sama suratnya:"D semangat adel

      ReplyDelete
    6. Masya allahh, semoga menaangg!

      ReplyDelete
    7. Uhhhhhhh semangatttt,kerennnn,semoga menangggg😽

      ReplyDelete
    8. from: anonymous
      to: kamu
      "berubah itu sukar, tapi yang lebih sukar adalah beristiqomah dengan perubahan diri, hanya yang berkeazaman kukuh teguh meneruskan."
      semangat semuanyaa!!

      ReplyDelete
    9. WAHHH KEREN BGTTTT, SEMANGATT YAAA^^

      ReplyDelete
    10. Keren banget 😍 semoga menang amin 😇

      ReplyDelete
    11. Wahh masyaallah bagus ini,semangat

      ReplyDelete
    12. Untuk renungan dan aku terharu. Tetap berkarya, selalu semangat, dan optimis.

      ReplyDelete
    13. Masyaa Allah,namparr bangetttt
      semangatttt!🙌🏻✨

      ReplyDelete
    14. Masyaallloh bagus banggttt "), semangat ya smua

      ReplyDelete
    15. Masyaallloh, bagus bangttt ")

      ReplyDelete

    FORKAPMI